Sekilas Mengenai Asal Usul Blangkon Beserta Filosofi Yang Ada Di Dalamnya

December 21, 2017 33167 Views

Bagi masyarakat Indonesia, sudah pasti tidak akan merasa asing lagi bila mendengar kata Blangkon. Sebuah penutup kepala yang biasanya identik atau erat kaitannya dengan orang jawa ini seakan akan telah menjadi simbol tersendiri bagi suku tersebut. Bahkan blangkon sendiri juga menjadi inspirasi untuk sebuah nama sistem operasi berbasis linux yang dinamai dengan BlankOn.

Tahukah kamu, ternyata bukan hanya orang yang berasal dari suku jawa saja yang menggunakan blangkon sebagai penutup kepala sesuai dengan adat mereka. Masih ada suku lain juga yang menggunakannya. Sebagai contohnya orang sunda yang mana juga menggunakan blangkon sebagai penutup kepala sesuai dengan adat mereka.

Nah, berbicara mengenai blangkon ini, apakah kamu sudah tahu bagaimana asal usul dari blangkon ini? Apa makna yang ada dari penggunaan blangkon? Pada artikel kali ini saya akan menjelaskan sebuah penjelasan mengenai blangkon. Untuk itu, yuk disimak ulasan mengenai blangkon berikut ini.

Apa Itu Blangkon

Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Menurut wujudnya, blangkon dibagi menjadi 4, yaitu: blangkon Ngayogyakarta, blangkon Surakarta, blangkon Kedu, dan Blangkon Banyumasan.

Blankon adalah salah satu bagian dari pakaian adat khas Jawa yang digunakan untuk penutup kepala bagi pria sebagai pelindung dari sengatan matahari atau udara dingin. Awalnya terbuat dari kain iket atau udeng berbentuk persegi empat bujur sangkar, berukuran kurang lebih 105 cm x 105 cm. Kain yang kemudian dilipat dua menjadi segitiga dan kemudian dililitkan di kepala dengan cara dan aturan tertentu. Mengenakan iket dengan segala aturannya ternyata tidak mudah dan memakan waktu, maka timbullah gagasan seiring dengan kemajuan pemikiran orang dan seni untuk membuat penutup kepala yang lebih praktis, yang kemudian kita kenal dengan nama blangkon.

Pada zaman dulu, blangkon hanya boleh dibuat oleh para seniman keraton dengan pakem (aturan) yang baku. Seperti halnya keris dan batik. Semakin blangkon yang dibuat memenuhi pakem, maka blangkon itu akan semakin tinggi nilainya.

Menurut Ranggajati, seorang pembuat blangkon membutuhkan virtuso skill atau keahlian keindahan. Keindahan blangkon, lanjut Ranggajati, selain dilihat dari pemenuhan pakem juga cita rasa sosial. Apalagi pakem blangkon sesungguhnya bukan hanya harus dipatuhi oleh pembuatnya, tetapi juga oleh para pemakainya.

Secara umum, ada dua jenis blangkon, yaitu yang mempunyai mondolan (tonjolan) dan yang trepes (rata). Pada awal iket dipergunakan sebagai tutup kepala, banyak pria Jawa yang berambut panjang sehingga harus digelung terlebih dahulu sebelum ditutup dengan iket. Gelung rambut ini lah yang kemudian mondol, menonjol, dan disembunyikan dibawah iket. Rambut dalam nilai filosofi orang Jawa yang sudah disebutkan diatas adalah representasi perasaan. Rambut dibawah iket adalah perasaan yang disembunyikan, yang harus dijaga rapat-rapat, menjaga perasaan sendiri demi menjaga perasaan orang lain.

Asal Usul Sejarah Blangkon

Tidak ada catatan sejarah yang pasti akan asal muasal orang Jawa memakai iket sebagai penutup kepala. Iket telah tersebut dalam legenda Aji Saka, pencipta tahun Saka atau tahun Jawa, sekitar 20 abad yang lalu dimana Aji Saka berhasil mengalahkan Dewata Cengkar hanya dengan menggelar kain penutup kepala yang kemudian dapat menutupi seluruh tanah Jawa.

Selain itu, ada cerita-cerita bahwa iket adalah pengaruh budaya Hindu dan Islam. Para pedagang dari Gujarat yang keturunan Arab selalu mengenakan sorban, kain panjang yang dililitkan di kepala, yang kemudian menginspirasi orang Jawa memakai ikat kepala seperti mereka. Cerita lain mengatakan, di satu waktu akibat peperangan kain menjadi barang yang sulit didapat sehingga petinggi keraton meminta seniman untuk menciptakan ikat kepala yang lebih efisien yaitu blangkon.

Seorang ahli kebudayaan bernama Becker yang meneliti tata cara pembuatan blangkon mengatakan, “That an object is useful, that it required virtuoso skill to make – neither of these precludes it from also thought beatiful. Some craft generate from within their own tradition a feeling for beauty and with it appropriete aesthetic standards and common of taste”. Pada jaman dahulu, blankon memang hanya dibuat oleh para seniman yang ahli dengan pakem (aturan) tentang iket. Semakin memenuhi pakem yang ditetapkan, maka blangkon tersebut akan semakin tinggi nilainya.

Ada juga sumber yang mengatakan bahwa penutup kepala ini sengaja di cipta para raja melalui para seniman karena pada jaman itu mereka mengalami krisis kain. Biasanya mereka menggunakan ikat kepala persegi berukuran 105 cm x 105 cm. Namun dengan blangkon ini bisa menghemat setengahnya.

Tak ubahnya dengan topi penghias kepala ini juga dibuat dengan cara yang sangat rapi dan memperhatikan unsur keindahan. Sejak jaman dulu telah dipercaya bahwa rambut atau kepala yang dalam bahasa Jawa Mustoko dianggap sebagai sesuatu yang harus diperlakukan dengan cara istimewa.

Oleh karena itu para seniman membuat blangkon bukan hanya sebagai alat untuk melindungi kepala. Selain bisa melindungi dari terik panas dan hujan penutup kepala ini diharap mampu memancarkan keindahan dan kegagahan.

Usut punya usut ternyata blangkon memiliki filosofi transcendental antara mahluk dengan pencipta -Nya. Bila diperhatikan maka blangkon akan memiliki dua ujung kain yang mana satu mensimbolkan syahadat Tauhid dan satu lagi mensimbolkan syahadat Rasul.

Bila dua syahadat tersebut disatukan maka akan menjadi syahdat ‘ain. Bila pertemuan dua syahadat tersebut diletakan diatas kepala artinya berada di tempat yang terhormat. Harapannya segala pemikiran yang keluar dari kepala didasarkan pada sendi-sendi Islam.

Kini dalam perkembangan waktu, dari ikat kepala juga dapat diketahui asal usul seseorang. Di dalamnya terdapat identitas yang di wakili oleh wiron, jabehan, cepet, waton, kuncungan, corak dan ragam hiasnya.

Semakin tinggi nilai yang diwakili maka kelas sosial pengguna blangkon dipastikan akan semakin tinggi pula. Namun tetap saja nilai utama yang hendak disampaikan adalah bentuk pengendalian diri. Jangan sampai kepala sebagai pusat dari tindak tanduk tidak terkontrol dengan baik.

Nilai filosofis lain yang ada terlihat dari ada tidaknya mondolan. Konon mondolan adalah bentuk representasi dari orang Jawa khususnya Jogja yang suka menyembunyikan perasaan. Perasaan yang disembunyikan tersebut pada akhirnya akan muncul juga.

Tapi anggapan ini ditepis oleh para ahli sejarah. Dari sumber yang ada mondolan ini digunakan Belanda sebagai bagian dari perang Devide Et Impera yang mana kala itu untuk Kerajaan Surakarta mereka telah menggenal alat cukur sehingga sering potong rambut dan membuat rapi.

Sebagai bagian dari taktik devide et impera, VOC menengahi dan memanfaatkan konflik internal kerajaan Mataram. Setelah ditandatanganinya perjanjian Gianti (1755) Kesultanan Mataram terbagi menjadi dua yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Masyarakat di kedua daerah ini kemudian tumbuh dengan caranya sendiri-sendiri. Salah satunya adalah pria Jogya masih berambut panjang dan menggelung rambutnya, sementara pria Surakarta karena lebih dekat dengan orang-orang Belanda terlebih dahulu mengenal cara bercukur.

Walaupun kemudian orang mulai banyak berambut pendek dan menggunakan blangkon (tidak lagi iket), untuk sebuah pembedaan maka dibuatlah mondholan yang dijahit langsung pada blangkon dari Jogya. Itu mengapa blankon dengan mondolan dapat ditemukan di Jogya, sementara yang trepes ditemukan di Solo. Sementara itu Kerajaan Yogyakarta belum begitu mengenal alat cukur sehingga rambut tetap panjang. Agar tetap rapi maka diikat di bagian belakang dan menunjukan mondolnya.

Pada perkembangannya kemudian, blangkon yang awalnya menjadi pelindung kepala yang mempunyai nilai filosofis tinggi kemudian menjadi sebuah simbol atau identitas kelompok serta status sosial dari masyarakat penggunanya. Hal ini ditandai dengan adanya wiron, jabehan, cepet, waton, kuncungan, corak dan ragam hiasnya.

Jenis – Jenis Blangkon Serta Filosofinya

Seperti yang sudah tertera di atas, blangkon sendiri memiliki jenis yang berbeda yakni blangkon jogja dan blangkon solo. Untuk lebih jelasnya, silahkan simak di bawah ini :

Blangkon Jogja

Blangkon yogya mempunyai mondolan, mondholan gaya Yogyakarta berbentuk bulat seperti onde-ondehal ini dikarenakan pada waktu itu, awalnya laki-laki Jogja memelihara rambut panjang kemudian diikat keatas (seperti Patih Gajah Mada) kemudian ikatan rambut disebut gelungan kemudian dibungkus dan diikat, lalu berkembang menjadi blangkon.

Kemudian menjadikan salah satu filosofi masyarakat jawa yang pandai menyimpan rahasia, tidak suka membuka aib orang lain atau diri sendiri karena ia akan serapat mungkin dan dalam bertutur kata dan bertingkah laku penuh dengan kiasan dan bahasa halus, sehingga menjadikan mereka selalu berhati-hati tetapi bukan berarti berbasa-basi, akan tetapi sebagai bukti keluhuran budi pekerti orang jawa. Dia pandai menyimpan rahasia dan menutupi aib, dia akan berusaha tersenyum dan tertawa walaupun hatinya menangis, yang ada dalam pikirannya hanyalah bagai mana bisa berbuat yang terbaik demi sesama walaupun mengorbankan dirinya sendiri.

Blangkon Solo

Blangkon solo berbeda dengan blangkon jogja. Pada blangkon solo tidak terdapat mandholan hanya sajablangkon gaya Solo mondholannya trepes atau gepeng . Karena waktu itu lebih dulu mengenal cukur rambut karena pengaruh belanda, dan karena pengaruh belanda tersebut mereka mengenal jas yang bernama beskap yang berasal dari beschaafd yang berarti civilized atau berkebudayaan.

Tidak adanya tonjolan hanya diikatkan jadi satu dengat mengikatkan dua pucuk helai di kanan dan kirinya, yang mengartikan bahwa untuk menyatukan satu tujuan dalam pemikiran yang lurus adalah dua kalimat syahadat yang harus melekat erat dalam pikiran orang jawa.

Jadi Blangkon adalah sebuah wujud pengendalian diri dengan menampakkan bagian depan blangkon yang diikat rapi(diwiru dg halus) lalu menahan gejolak emosi, dalam hal ini rambut sebagailambang gejolak emosi, dengan mengikatnya di belakang kepala hingga berbentuk benjolan tadi. Meski hati panas tapi kepala harus dingin. Maka bila emosi sudah tak tertahankan dan meledak maka lelaki Jawa harus mengurai mondolan di blangkonnya,membiarkan rambut panjangnya tergerai.

Hal inilah yang sering disalahpahami sebagai halus di depan tapi dongkol dibelakang untuk menyembunyikan niat busuknya.Sebagai orang Jawa tulen sudah semestinya saya meluruskan kesalahpahaman itu. Sekali lagi etnis manapun berpotensi seperti itu. Falsafah blangkon di jaman sekarang tidak jauh berbeda dengan EQ atau apalah di Indonesia-kan. Pendek kata, bila saya atau panjenengan adalah orang Jawa tapi tidak mampu mengendalikan emosi, nafsu, syahwat maka saya atau panjengengan tidak berhak mengenakan iket Blangkon di kepala.

Nah, sekarang tentunya kamu sudah tahu kan bagaimana asal usul blangkon serta filosofi yang ada mengenai blangkon. Semoga bermanfaat ya.