Belajarlah sampai ke negeri cina? Ungkapan itu sering sekali kita dengar dikala kita masih duduk dibangku sekolah dasar dan hingga sampai sekarang pun, istilah tersebut masih digunakan untuk memotivasi kita untuk hidup sukses. “Tuntutlah Ilmu sampai ke negeri Cina” begitulah sabda Rasulullah SAW. Jauh sebelum masa kenabian Rasulullah Saw, bangsa Cina memang telah mencapai peradaban yang amat tinggi. Kala itu, masyarakat Negeri Tirai Bambu sudah menguasai beragam khazanah kekayaan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Cina merupakan sebuah negara yang luas daratannya dan jumlah penduduknya terbesar di dunia. Kemerdekaan cina tak jauh dari kita. Hanya selisih 4 tahun dengan Indonesia yang menjadi bangsa merdeka pada 1945. Saat ini Cina merupakan negara dengan kekuatan ekonomi nomor 2 di dunia setelah Amerika Serikat, akan tetapi prediksi beberapa pakar di tahun 2018, Cina akan mengambil alih posisi negara Paman Sam tersebut untuk menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar pertama di dunia.

Istilah Yang Digunakan Bertujuan Untuk Memotivasi

Tak bisa dipungkiri bahwa umat Islam juga banyak menyerap ilmu pengetahuan serta peradaban dari negeri ini. Beberapa contohnya antara lain, ilmu ketabiban, kertas, serta bubuk mesiu. Kehebatan dan tingginya peradaban masyarakat Cina ternyata sudah terdengar di negeri Arab sebelum tahun 500 M. Sejak itu, para saudagar dan pelaut dari Arab membina hubungan dagang dengan Middle Kingdom, yaitu julukan Cina.

Pada abad pertama, bangsa Cina di masa Dinasti Han pernah memimpin perdagangan dunia melalui Jalur Sutra The Silk Road. Dan, saat ini Cina ingin mengembalikan kejayaan tersebut melalui jalur perdagangan dunia One Belt One Road (OBOR), sehingga beberapa proyek infrastruktur Cina tengah dikebut di beberapa negara yang jadi lokasi (trace) One Belt One Road tersebut.

Sebelum berada di Cina, para saudagar Arab melintasi Srilanka dan mengarahkan kapalnya ke Selat Malaka. Setelah itu, mereka berlego jangkar di pelabuhan Guangzhou atau orang Arab menyebutnya Khanfu. Guangzhou merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan tertua di Cina. Sejak itu banyak orang Arab yang menetap di Cina.

Diantara ungkapan yang sangat terkenal dari para ulama kita adalah “Tuntutlah ilmu meskipun sampai ke negeri Cina, kendati ungkapan ini bukan hadits dari Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- namun ungkapan ini mengandung sisi kebenaran, inti pesan dari ungkapan di atas adalah pentingnya menuntut ilmu bagi umat manusia, sehingga kendati seseorang harus pergi ke tempat nan jauh demi tujuan mulia tersebut, maka hendaknya dia melakukannya.

Dalam pandangan sebagian ulama hadist tersebut dikategorikan kepada hadist dhaif, tidak menggolongkannya kepada maudhu (palsu). Indikator (alasan) nya hadist itu telah diriwayatkan dalam banyak sanad. Salah satu diantaranya oleh Imam Baihaqi dalam kitab Syi’bul Iman.

Para ulama ahli hadits menyebutkan di antara perawi hadits tersebut terdapat Abu ‘Atikah, menurut ulama’ hadits beliau sebagai perawi dhaif, sehingga oleh ulama dalam menilai hadist itu telah muncul banyak pendapat ada yang mengklasifikasikannya kepada hadits dhaif, bathil atau tidak bersanad.

Kebanyakan orang yang mengetahui bahwa Rasulullah tidak pernah menyampaikan hadis semacam ini, langsung menegangkan urat leher. Mereka menyerang secara frontal siapa pun yang mempercayai pepatah ini sebagai hadis. Orang-orang semacam ini, yang mungkin begitu bersemangat dalam menegakkan kebenaran, cenderung menyalahkan dan menganggap umat Islam yang mempercayai ucapan?? Carilah Ilmu hingga ke Negeri Cina? Kurang (atau tidak) belajar agama. Bahkan ada yang menambahkan, Cina saat itu belum diketahui Nabi atau di sana terdapat hal-hal yang bertentangan dengan agama. Mana mungkin Nabi mengajarkan umat Islam berangkat ke sebuah tempat yang memungkinkan mereka menjadi kafir kembali.

Selalu Sukses Dalam Berbisnis

Orang Tionghoa bisa dibilang mapan dari segi ekonomi. Sekian banyak masyarakat etnis Tionghoa yang tinggal di Indonesia, sekitar 75% diantaranya mampu dalam mengelola hal ekonomi. Banyak dari mereka yang memilih untuk berkecimpung di dunia bisnis dan menjadi seorang bos dibandingkan bekerja di sebuah perusahaan dan menjadi karyawan biasa.

Bisnis yang dijalankan oleh orang Tionghoa pun rasanya jarang mengalami kebangkrutan. Malahan sebaliknya, bisnis yang dijalankan berhasil menuai kesuksesan besar atau bahkan dikenal di penghujung dunia. Kenapa bisnis orang Tionghoa bisa sukses, berikut rahasia yang perlu Anda ketahui dan bisa dijadikan inspirasi.

1. Para pekerja Keras

Hari pekan memang sebaiknya digunakan untuk beristirahat. Tapi, orang Tionghoa memilih untuk menghabiskan hari pekan dengan bekerja. Mereka mengatakan kalau hari pekan adalah hari yang paling tepat untuk menambah pundi-pundi kekayaan. Di saat orang lain bermalas-malasan dan bersantai, disitulah waktu yang tepat untuk bekerja lebih keras supaya bisa lebih maju dibandingkan orang lain.

2. Sudah Mengenal Bisnis Sejak Kecil

Usaha yang digeluti orang Tionghoa adalah usaha keluarga. Jadi jangan heran kalau Anda mendapati anak-anak mereka turut membantu orang tuanya saat bekerja. Karena ini termasuk salah satu budaya untuk mengajari anak cara berbisnis yang baik dan benar. Sehingga budaya untuk berbisnis memang sudah tertanam kuat dalam diri anak-anaknya sejak kecil. Lagipula, mengajarkan teori tentang berbisnis saja tidaklah cukup jika tidak dibarengi dengan praktek.

3. Hidup Yang Hemat

Istilah yang satu ini juga sangat berpengaruh bagi orang Tionghoa bahkan juga kita semua. Orang Tionghoa memang terlihat elegan saat menghadiri jamuan makan malam atau menghadiri pesta ulang tahun rekan bisnisnya. Tapi, tampilan yang seperti ini sama sekali tidak ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka lebih suka berpakaian sederhana saat menginjakkan kaki ke luar rumah, seolah-olah terlihat seperti orang biasa padahal seorang jutawan. Orang Tionghoa juga berupaya untuk hidup hemat. Hal ini bisa dilihat jelas saat berbelanja, dimana mereka sangat teliti saat membandingkan harga barang yang satu dengan yang lain. Mereka juga tidak malu untuk berburu barang yang lagi diskon demi menghemat pengeluaran.

4. Bekerja Dengan Sepenuh Hati

“Do what you love, love what you do”, motto ini diterapkan dengan benar oleh orang Tionghoa. Karena tidak suka diatur, mereka lebih memilih untuk membuka usaha sendiri dan menjadi seorang bos. Usaha yang dibuka juga tidak asal-asalan, melainkan usaha yang didasarkan pada passion. Inilah alasan kenapa orang Tionghoa selalu terlihat ceria saat bekerja karena apa yang dikerjakannya merupakan apa yang disukainya. Sehingga mereka dapat bekerja dengan sepenuh hati, hasilnya pun jadi lebih maksimal.

5. Berani Mengambil Risiko

Setiap keputusan yang diambil tidak pernah luput dari risiko yang nantinya akan sangat berpengaruh bagi perjalanan bisnis di masa yang akan datang. Tapi, orang Tionghoa tidak terlalu memikirkan risiko yang akan terjadi karena keputusan yang diambil sudah melalui proses analisis yang amat panjang. Tidak hanya itu, keputusan juga tidak dikaitkan pada satu aspek bisni saja, melainkan seluruh aspek bisnis sehingga mereka dapat menetapkan spekulasi yang terjadi di masa yang akan datang.

Prinsip Hidup Yang Diambil

Padahal dulu ekonomi Tiongkok hanya sebesar 1 Negara bagian Amerika. Kini, ekonomi 1 kota Shenzhen saja sudah lebih besar dari Negara Filipina; dan para pakar ekonomi memprediksi, Tiongkok akan memimpin perekonomian dunia, paling lambat tahun 2030.

Jelaslah bahwa ternyata masih banyak penduduk Indonesia yang kurang bisa menerima kesuksesan suku yang bukan suku asli Indonesia ini. Padahal, jika melihat lebih dalam, ada beberapa prinsip hidup yang membuat suku ini berhasil sukses, mulai dari bukan apa-apa menjadi orang2 yang kaya. Berikut beberapa prinsip tersebut.

  • Pepatah kuno ala Ann Wann Seng “Jika ingin lebih berhasil dari orang lain, kita tidak punya pilihan, kecuali bekerja dengan lebih keras dan rajin!”

Ann Wann Seng merupakan seorang tokoh muslim dan ustad asal Malaysia. Beliau dikenal karena menerbitkan buku2 yang berjudul “Rahasia Bisnis Orang Cina“. Ya, sepertinya inilah kunci utama dari kesuksesan yang bisa diraih para suku Tionghoa hingga saat ini. Kerja keras merupakan kunci yang tidak dapat disangkal lagi. Tentu sudah bukan rahasia jika mereka memang sangat tekun dan ulet dalam bekerja.

  • Ungkapan “Orang yang tidak bisa tersenyum dilarang membuka toko.”

Pepatah yang satu ini mungkin terdengar menggelikan, tetapi ini adalah pernyataan yang benar. Bayangkan saja, jika menjadi pembeli lantas menemukan penjual yang tidak mau tersenyum, atau berwajah sewot terus, tentunya hati terasa tidak senang.

  • Pepatah “Makan bubur sebelum sukses dan makan nasi setelah sukses.”

Jika pernah mendengar pepatah “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.” Maka pepatah yang satu ini memiliki makna yang hampir sama. Intinya jika ingin mendapatkan kesuksesan, maka di awal harus mau untuk bersusah-susah terlebih dahulu.

Gak heran, banyak orang Tionghoa yang sukses turun-temurun karena mereka selalu punya warisan buat generasi mereka selanjutnya. Kalau kamu membiasakan diri buat berhemat dan bekerja keras, lama-lama kamu pun udah kebal dengan “rasa sakit”. Ingat saja, toh kamu di masa mendatang bisa hidup enak. Yang terpenting adalah, kapanpun, dimanapun dan siapapun kamu, sudah saatnya mulai memperbaiki diri agar mencapai kesuksesan yang sesungguhnya, sekian utnuk hari ini. Terima kasih.