Ketika malam hari datang, mungkin kita sering menatap langit dan berharap bisa melihat Bulan dari jauh. Bulan merupakan satu-satunya satelit alami yang dimiliki oleh Bumi. Jika dilihat dari Bumi, Bulan merupakan benda angkasa yang memiliki cahaya terang. Namun jika dipelajari lebih jauh lagi, Bulan sebenarnya tidak memiliki sinar sendiri. So, dari mana sinar tersebut berasal? Mungkin pertanyaan tersebut timbul dalam benak anda. Tapi sebelum pertanyaan tersebut dijawab, ada baiknya untuk mengetahui tentang Bulan.

Pengertian Bulan

Bulan merupakan benda angkasa yang berbentuk bulat dan mengelilingi Bumi dalam satu lintasan garis edar tertentu (orbit). Oleh sebab itu, Bulan disebut sebagai satelit alam Bumi. Diameter Bulan lebih kurang 3.476 km atau sekitar 1/4 diameter Bumi, jarak rata-ratanya ke Bumi sekitar 384.000 km. Periode revolusi Bulan terhadap Bumi sekitar 27,3 hari, sedangkan periode rotasinya sama dengan revolusinya, yaitu 27,3 hari atau satu Bulan sideris, yaitu peredaran Bulan mengelilingi Bumi dalam suatu lingkaran penuh (360°).

Bulan merupakan benda angkasa yang memiliki gravitasi sangat kecil, hanya sekitar 1/6 gravitasi Bumi, akibatnya Bulan tidak mampu mengikat atmosfer. Dalam bahasa Inggris, nama untuk satelit alami Bumi adalah moon. Kata benda moon berasal dari kata moone yang juga berkembang dari kata mone. Sebutan lain untuk Bulan dalam bahasa Inggris adalah lunar, yang berasal dari bahasa Latin Luna. Sedangkan sebutan lain yang jarang digunakan adalah selenic yang berasal dari bahasa Yunani Kuno Selene.

Ketiadaan atmosfer di Bulan menjadikan keadaan Bulan sangat sunyi karena tidak terdapat media yang berfungsi merambatkan gelombang suara. Akibat lainnya adalah pada siang hari suhu permukaan Bulan menjadi sangat panas, yaitu mencapai 100° C, sedangkan pada bagian Bulan yang mengalami malam hari suhu permukaannya menjadi sangat dingin, yaitu mencapai -150° C.

Ciri-Ciri Bulan (The Moon)

Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa Bulan merupakan benda langit yang gelap (tidak bercahaya sendiri) dan tdak mempunyai panas sendiri. Adapun ciri-ciri dari Bulan adalah sebagai berikut:

  • Jaraknya dari Bumi tidak konstan (kekal), tetapi berubah-ubah.
    (1) jarak rata-rata 384.000 km dari Bumi.
    (2) jarak terjauh 405.500 km dari Bumi.
    (3) jarak terdekat 363.000 km dari Bumi.
  • Garis tengahnya adalah 4.480 km.
  • Massanya adalah 1/8 x Bumi.
  • Volumenya adalah 1/50 dari Bumi.
  • Rotasi Bulan (mengelilingi sumbunya) adalah 27 1/3 hari (sideris) dan 29 1/2 (sinodis).
  • Revolusi Bulan (mengelilingi Bumi) adalah 27 1/3 (sideris) dan 29 1/2 hari (sinodis).

Struktur Bulan (The Moon)

Secara umum, struktur Bulan terdiri atas 3 lapisan penting, yaitu seperti:

  • Kerak Bulan

Kerak Bulan merupakan lapisan Bulan yang paling luar yang melindungi lapisan dibawahnya.

  • Mantel Bulan

Matel Bulan merupakan lapisan dibawah kerak Bulan yang menyelimuti lapisan inti.

  • Inti

Inti Bulan berbeda dengan benda langit lainnya. Ini terbagi menjadi dua yaitu inti luar dan inti dalam. Inti dalam Bulan kaya akan besi yang berada pada radius sekitar 240 km. Sedangkan inti luarnya berupa fluida (cair) yang tersusun dari besi cair, dengan radius sekitar 300 km.

Sifat dan Karakteristik Bulan

Setelah mengetahui apa itu Bulan dan bagaimana ciri-cirinya, ada baiknya juga untuk mengetahui sifat dan juga karakteristik Bulan. Berikut ini penjelasannya:

  • Permukaan Bulan

Bulan tidak dapat terlihat jelas dari Bumi tanpa menggunakan teleskop dan binokular. Bulan memiliki permukaan yang kecerahannya tidak sama, dimana terdapat bagian yang terang dan juga gelap. Ketika kita melihat Bulan dari Bumi dengan mata telanjang, ini sepertinya memiliki permukaan yang halus. Namun hal ini terbantahkan karena Galileo mendapati bahwa permukaan Bulan tidak rata melainkan berbukit-bukit (dataran tinggi) dan memiliki bayak kawah.

Dan karakteristik permukaan Bulan ini berhubungan dengan kecerahannya, dimana daerah yang terlihat terang memiliki permukaan yang berbukit dan penuh kawah dan daerah yang gelap adalah permukaan yang memiliki sedikit kawah. Dataran tinggi yang terdapat pada Bulan disebut mare.

  • Medan Gravitasi Bulan

Pada waktu sebelumnya, medan gravitasi Bulan telah diukur dengan menggunakan pelacakan pergeseran Doppler pada sinyal radio yang dipancarkan oleh pesawat ruang angkasa yang mengorbit Bulan. Gravitasi Bulan berbentuk konmas, anomali gravitasi positif yang terkait dengan beberapa basin tubrukan besar, sebagian yang disebabkan oleh aliran lava basaltik mare padat yang memenuhi basin tersebut. Sering terjadi perdebatan mengenai gravitasi Bulan karena lava yang mengalir dengan sendirinya tidak bisa menjelaskan bentuk gravitasi Bulan dan beberapa konmas yang ada sama sekali tidak terkait dengan vulkanisme mare.

  • Medan Mangnet Bulan

Edan magnet yang dimliki oleh Bulan jauh lebih kecil dibandingkan dengan dengan medan magnet Bumi. Medan magnet eksternal dari Bulan terdiri sekitar 1-100 nanotesla. Bulan tidak memiliki medan magnet dipolar global, medan magnetnya dihasilkan oleh geodinamo inti logam cair dan hanya memiliki magnetisasi kerak.

  • Atmosfer Bulan

Jika Bumi memiliki atmosfer jangan harap kalau Bulan juga memilikinya. Hal ini dikarenakan bagian dalam Bulan terlalu dingin untuk menampung aktivitas vulkanik. Aktivitas vulkanik termasuk salah satu penghasil gas dan pembentuk atmosfer pada masa awal. Penyebab lain adalah karena massa buan terlalu kecil sehingga gaya gravitasi yang dihasilkan tidak cukup untuk menahan gas yang terbentuk.

Kecepatan lepas di Bulan hanya 2,4 km/detik sangat berbanding terbalik dengan Bumi yang memiliki kecepatan lepas sebesar 11,2 km/detik. Dengan kecepatan lepas sekecil itu, gas yang ada di Bulan dapat bergerak lepas dari pengaruh gravitasi Bulan, sehingga tidak ada udara dipermukaannya.

  • Musim Bulan

Kemiringan sumbu eliptika yang kecil hanya berkisar antara 1,5423°. Hal ini merupakan penyebab variasi iluminasi saurya pada Bulan memiliki musim yang jauh lebih sedikit dan detail topografi memiliki peran penting dalam efek perubahan musim. Terdapat empat pegunungan dipinggir kawah peary pada kutub utara Bulan yang diduga tetap disinari oleh Matahari disepanjang hari Bulan menciptakan puncak cahaya abadi.

Sedangkan di kutub selatan tidak terdapat wilayah seperti itu. Di bulan juga terdapat wilayah yang tidak menerima cahaya secara permanen di bagian bawah kawah kutub dan kawah-kawah gelap ini suhunya sangat dingin. Suhu musim panas terendah di kawah kutub selatan mencapai 35 K dan ketika musim dingin suhunya hampir 26 K di kawah Hermite di kutub utara.

Fase Bulan

Ini merupakan bentuk Bulan yang selalu berubah-ubah jika dilihat dari Bumi. Fase Bulan itu tergantung pada kedudukan Bulan terhadap Matahari dilihat dari Bumi. Fase Bulan disebut juga sebagai aspek Bulan. Berikut ini adalah deskripsi dari masing-masing fase Bulan :

  • Fase Bulan Baru (New Moon) : Pada Fase ini sisi Bulan yang menghadap Bumi tidak menerima cahaya dari Matahari, sehingga Bulan tidak dapat terlihat dari Bumi. Fase ini terjadi di hari pertama, ketika Bulan berada diposisi 0 derajat.
  • Fase Sabit Muda (Waxing Crescent) : Ketika fase ini terjadi maka kurang dari setengah bagian Bulan menyala. Selama fase ini Bulan yang terlihat yang terlihat dari Bumi semakin lama akan semakin besar. Pada hari keempat dan berada posisi 45 derajat fase ini akan terjadi. Dan jika dilihat dari Bumi akan ini akan terlihat melengkung seperti sabit.
  • Fase Kuartal III (Third Quarter) : Pada fase ini Bulan tampak seperti setengah lingkaran. Hal ini terjadi dihari kedelapan ketika Bulan berada di posisi 90 derajat.
  • Fase 4 (Waxing Gibous) : Fase ini ditandai dengan setengah bagian Bulan tampak lebih besar dimana ketika diperhatikan dari Bumi akan terlihat seperti cakram atau biasa disebut dengan bulan cembung. Ini terjadi pada hari kesebelas ketika Bulan berada pada posisi 135 derajat.
  • Fase Bulan Purnama (Full Moon) : Pada fase ini, Bulan berada pada sisi berlawanan dengan Bumi sehingga cahaya Matahari sepenuhnya terkirim ke Bulan. Fase ini terjadi dihari keempat belas ketika Bulan berada pada posisi 189 derajat. Fase ini Bulan terlihat seperti lingkaran penuh atau sering dikenal dengan istilah Bulan purnama.
  • Fase 6 (Wanning Gibous) : Ini merupakan fase yang terjadi pada hari ketujuh belas ketika Bulan berada pada posisi 225 derajat. Dan jika dilihat dari Bumi, maka Bulan akan semakin kecil secara bertahap. Penampakannya kembali seperti cakram.
  • Fase Kuartal I (First Quarter) : Pada fase ini, Bulan terlihat setengah bagian dimana penampakannya sama seperti Bulan pada fase kuartil III. Dan ini terjadi pada haru kedua puluh satu ketika Bulan berada tepat pada posisi 270 derajat.
  • Fase Sabit Tua (Waning Crescent) : Pada fase ini sebagian kecil dari Bulan terlihat dan ini terjadi di hari kedua puluh lima ketika Bulan berada pada posisi 315 derajat. Penampakan pada fase Bulan terlihat sama seperti pada posisi 45 derajat. Bulan tampak seperti sabit.

Kenapa Bulan Bisa Bercahaya?

Ketika siang datang pastinya kita akan menikmati yang namanya sinar Matahari. Dan pada malam hari, kita pastinya bisa melihat Bulan yang bersinar meskipun tidak seterang Matahari. Tapi, apakah Bulan memang bisa bersinar? Bukannya Bulan itu gelap dan tidak dapat bersinar?

Menurut para astronom, dari semua benda langit hanya bintang yang bisa bercahaya sendiri. Artinya, planet dan satelitnya (termasuk juga Bumi dan Bulan) serta semua benda langit selain bintang tidak bercahaya. Itu karena materi penyusun Bulan bukan hidrogen dan helium seperti Matahari. Bulan tersusun dari material yang mirip seperti Bumi, yaitu lapisan batuan luar yang disebut mantel dan inti yang sebagian besar terbuat dari besi.

Jadi, kalau Bulan tidak bisa bersinar sendiri, lalu kenapa kalau dilihat dari Bumi Bulan tersebut bersinar? Ini terjadi karena Bulan memantulkan sinar Matahari sesuai dengan orbitnya, akan tetapi tidak semua permukaan Bulan memantulkan cahaya. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa hanya setengah saja yang menghadap langsung pada Matahari dan memantulkan cahaya.

Astronot yang pernah mendarat di Bulan mengatakan bahwa permukaan Bulan bergelombang dan berwarna abu-abu gelap seperti warna aspal jalanan. Bentuk dan warna permukaan Bulan yang seperti itulah yang menyebabkan Bulan bisa memantulkan cahaya Matahari. Walaupun begitu, Bulan hanya memantulkan seitar 12 persen dari cahaya Matahari.

Pemantulan cahaya yang terjadi pada bulan mirip dengan cermin, tapi tidak dapat dikatakan seperti cermin. Semua benda di luar angkasa memiliki albedo yaitu sebuah ukuran untuk kemampuan benda tersebut memantulkan cahaya. Misalnya benda seperti es dan tanah. Es memiliki albedo tinggi, sedangkan tanah memiliki albedo rendah.

Namun, albedo Bulan sebenarnya sangat rendah, bahkan mirip dengan batubara. Cahaya terang tersebut sebenarnya hasil dari efek oposisi. Efek ini serupa dengan yang terjadi ketika melihat lampu mobil menyinari jalan gelap, jalan tersebut akan terlihat lebih terang dibanding ketika tak ada cahaya yang menerpanya. Pada kasus Bulan, Matahari yang bersinar langsung ke arahnya menimbulkan cahaya Bulan. Pantulan cahaya ini kemudian diperkuat oleh sejumlah besar debu dipermukaannya, sehingga bisa terlihat lebih terang.

Bulan akan terlihat terang saat fase purnama karena Bulan tersinari sepenuhnya oleh Matahari. Fase purnama itu terjadi saat Matahari-Bumi-Bulan berada dalam posisi yang sejajar. Bulan berada di seberang Matahari sehingga bagian Bulan yang menghadap ke Bumi juga menghadap ke Matahari dan tersinari sepenuhnya. Itulah yang mengakibatkan Bulan terlihat bersinar terang.

Dari artikel di atas dapat disimpulkan bahwa Bulan uyang kita tatap dari Bumi tidaklah bersinar, melainkan hanya memantulkan sinar Matahari. Hal ini terjadi karena Bulan hanya benda langit yang terdiri dari lapisan batuan luar yang disebut mantel dan inti dimana sebagian besar terbuat dari besi.  So, ketika Anda melihat Bulan di malam hari jangan pernah mengatakan bahwa itu bersinar.