Mengenal Beberapa Alat Laboratorium dan Penjelasannya

May 29, 2018 348 Views

Siapa disni yang mengaku anak kimia?? Pastinya kalian tau apa itu laboratorium. Ya, laboratorium merupakan tempat untuk melakukan praktikum analisis atau percobaan. Kalau di sekolah, praktikum hanya digunakan untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang dasar saja. Tetapi kalau sudah di universitas, laboratorium sering di jadikan tempat eksperimen atau penelitian.

Saat kalian hendak melakukan percobaan atau praktikum, pastinya kalian menggunakan alat dan bahan. Yang dimana alat dan bahan tersebut mempunyai namanya sendiri dan kegunaannya. Hendak melakukan praktium di laboratorium tentunya sangat penting bagi seorang praktikan untuk mengenal alat-alat laboratorium, supaya kita mengetahui nama dan fungsi dari alat tersebut. Kalau sudah tau, maka ketika kita ingin melakukan praktikum akan terasa lebih mudah.

Suatu laboratorium dapat di katakan baik apabila sudah memiliki fasilitas yang memadai atau mendukung untuk melakukan eksperimen. Baik dari segi tata letak maupun segi alat dan bahan. Namun sebaik apapun laboratorium itu bila tidak ada laboran yang mengelola dan mengurusnya, maka laboratorium itu akan terbengkalai dan menjadi sia-sia. Kalau dari segi alat saja sudah tidak bagus, maka praktikum yang akan di lakukan akan gagal.

Nah, pada artikel kali ini saya akan membahas beberapa jenis alat laboratorium yang sering di gunakan. Disini saya akan menjelaskan mengenai fungsi dari alat, komponen-komponen alat yang ada di dalamnya, dan lain-lain. Untuk mengetahui selengkapnya, mari kita lihat penjelasan di bawah ini. Cekidott..

Macam-Macam Alat Laboratorium

Sebelum kalian hendak melakukan praktikum di laboratorium, alangkah baiknya bagi seorang praktikan harus mengenal dan memahami nama dan fungsi dari semua peralatan dasar yang sering di gunakan di dalam laboratorium kimia serta menerapkannya di dalam laboratorium. Berikut di bawah ini sudah di uraikan beberapa alat praktikum yang akan di gunakan saat melakukan praktikum.

1) Lemari Asam

Lemari asam atau yang biasa juga disebut fume hood merupakan alat ventilasi lokal yang di desain untuk mengurangi paparan dari gas yang berbahaya, uap beracun, mau pun debu sekalipun. Lemari asam secara umum merupakan salah satu alat laboratorium yang berukuran besar, dengan susunan kabinet bagian bawahnya sebagai penahan / meja. Peralatan lokal ventilasi yang sering di pakai di laboratorium antara lain : kabinet udara bersih, biosafety cabinet, dan kotak inokulasi.

Semua peralatan ini merupakan peralatan yang berfungsi untuk mengontrol pengaruh udara yang berbahaya baik untuk personil, bahan penelitian, maupun peralatan laboratorium. Fungsi lemari asam adalah melindungi praktikan dari bahaya gas beracun yang terhirup selama proses pengujian ataupun pembelajaran di laboratorium.

Keberadaan lemari asam dalam laboratorium sangatlah di butuhkan. Karena lemari asam juga berguna untuk menyimpan zat kimia yang bersifat asam atau basa kuat yang mudah menguap. Fungsi utama dari lemari asam adalah sebagai perantara untuk memindahkan bahan kimia yang bersifat asam dengan konsentrasi yang tinggi, juga sebagai tempat reaksi kimia yang menggunakan bahan-bahan yang mudah menguap dan gas yang berbahaya, selain itu juga sebagai tempat untuk menyimpan bahan-bahan kimia dengan asam yang tinggi.

Sirkulasi udara dalam suatu lemari asam memang sangatlah penting, supaya penggunaan lemari asam dapat di gunakan dengan baik. Bahan yang di gunakan dalam lemari asam sebaiknya tahan terhadap bahan kimia.

Adapun komponen kimia yang perlu di perhatikan dalam pemilihan bahan lemari asam adalah :

  • Tahan terhadap bahan kimia organik
  • Tahan terhadap bahan kimia yang bersifat korosif (asam dan basa)
  • Tahan terhadap ledakan

Lemari asam terdiri dari 2 jenis yaitu ducting dan ductless. Prinsip kerja lemari asam ini sama saja, udara di hisap dari depan pintu lemari asam, kemudian di keluarkan oleh blower hisap, menuju keluar gudang atau bahan penyaring. Pada bagian depan lemari asam bisa di buka, sehingga udara dalam ruang lemari asam berpotensi bercampur dengan udara yang ada di ruangan laboratorium.

Untuk menghindari bahaya udara yang terhirup di dalam laboratorium dari penggunaan lemari asam, maka aliran udara yang ada di dalam lemari asam langsung di lepaskan melalui blower yang sudah di pasang di dalam laboratorium menuju keluar laboratorium. Desain dari lemari asam sendiri di fokuskan untuk menghindari bahaya percampuran air yang ada di lemari asam ke ruang laboratorium.

Berikut ini cara menggunakan lemari asam:

  1. Naikan slidding window atau jendela sorong sesuai dengan ukuran keinginan anda
  2. Hidupkan tombol blower
  3. Hidupkan lampu sebagai penerang
  4. Jika blower telah hidup, maka mulailah melakukan pekerjaan anda secara teliti dan hati-hati.
  5. Pada saat melakukan praktikum, turunkan slidding window searah dengan bahu praktikan. Hal ini di karenakan untuk menghindari percikan-percikan dari bahan zat kimia ke muka.
  6. Jika kalian ingin memberhentikan praktikum untuk di tinggal sebentar, maka tutup slidding window ± 10 cm dari bibir atas meja.
  7. Setelah selesai praktikum, kalian harus membersihkan lemari asam dengan menggunakan kain kering yang kemudian di bilas dengan kain basah, lalu di lap lagi hingga kering.
  8. Kalau sudah siap menggunakan lemari asam, matikan tombol lampu.
  9. Kemudian tutup jendela dari lemari asam.

2) Hot plate

Hotplate merupakan alat yang biasanya digunakan dalam praktikum ataupun penelitian di laboratorium. Melakukan praktikum di laboratorium tidak hanya menggunakan alat-alat yang berbahan gelas dan peralatan ukur lainnya. Tetapi kalian juga menggunakan alat-alat yang menggunakan listrik seperti pemanas, salah satu contohnya hot plate.

Hotplate adalah salah satu alat yang ada di laboratorium kimia yang biasanya di gunakan untuk memanaskan campuran /sampel. Sampel yang akan dipanaskan, biasanya ditempatkan di dalam erlenmeyer atau gelas kimia. Kemudian pada hotplate terdapat tombol yang diputar yang berfungsi untuk menghidupkan dan mematikannya. Cara penggunaan alat ini cukup sederhana kita tinggal menyalakannya kemudian menempatkan sampel di atas hotplate, kemudian mengatur suhu sesuai yang diinginkan. Gampang bukan?

Bagian-Bagian Dari Hot Plate Stirrer Digital

Ada lima bagian dari hot plate yang akan di jelaskan di bawah ini. Berikut di bawah penjelasan mengenai bagian-bagian dan fungsi yang terdapat pada hotplate.

  • Top Plate / Bagian Atas

Top plate pada gambar di atas berwarna putih. Bagian ini berfungsi sebagai tempat meletakkan wadah yang berisikan sampel yang akan dipanaskan atau dihomogenkan. Alat gelas yang umum digunakan adalah beaker glass atau erlenmeyer. Ada 3 jenis pelapis yang ada pada bagian atas dari hot plate ini, yaitu lapisan aluminium, enamel dan keramik.

  • Tombol Pengatur Suhu

Tombol pengatur suhu pada gambar di atas letaknya berada di sebelah kiri. Fungsinya adalah untuk mengatur suhu atau derajat panas dari Hot plate agar sesuai dengan yang diinginkan. Jika anda memutar searah jarum jam, maka suhu yang dihasilkan dari Hot plate semakin tinggi, demikian pula dengan sebaliknya. Namun, suhu yang dihasilkan hot plate ini tidak sama dengan suhu yang ada pada larutan. Untuk mengetahui / mengukur suhu dari larutan sampel, maka digunakan pengukur suhu berupa termometer.

  • Tombol Pengatur Kecepatan

Tombol pengaturan kecepatan pada gambar di atas terletak di sebelah kanan tombol pengatur suhu. Yang fungsinya untuk mengatur kecepatan pada saat pengadukan. Mekanisme pengadukannya adalah dengan cara memutar magnetic stirer. Untuk meningkatkan kecepatan pengadukan maka anda dapat memutar tombol searah jarum jam.

Atur kecepatan dengan cara memutar tombol, supaya larutan tidak muncrat. Gunakan magnetic stirrer bar yang sesuai dengan diameter gelas di atasnya. Dengan adanya pengadukan menggunakan magnetic stirer ini, praktikum yang melakukan analisis di laboratorium tidak perlu melakukan pengadukan secara manual. Oleh karena itu, praktikum dapat mecampurkan larutan yang dibuat secara lebih cepat.

  • Layar Display

Bagian ini hanya ada pada jenis hot plate digital. Kalian tidak akan menjumpainya pada hot plate analog. Fungsi layar display adalah untuk menampilkan suhu dan kecepatan pengadukan dalam bentuk angka yang digital.

  • Hot Plate House

Bagian house ini berfungsi untuk melindungi komponen elektronik utama dari hot plate. Pada gambar di atas, bagian ini di cat dengan warna biru.

3) Timbangan / Neraca Analitik

Timbangan / neraca analitik adalah jenis timbangan yang fungsinya untuk menimbang berat hingga ukuran milligram (1 gram=1000 mg). Timbangan analitik banyak digunakan di laboratorium farmasi, laboratorium kimia dan toko emas. Nama lain dari timbangan analitik adalah timbangan milligram atau neraca analitik.

Alat penghitung satuan massa atau yang biasa disebut dengan neraca analitik merupakan suatu benda dengan teknik digital dan dengan tingkat ketelitian yang cukup tinggi. Prinsip kerjanya yaitu dengan cara menyambungkan alat ini ke listrik dan melakukan prosedur terlebih dahulu sebelum digunakan yang kemudian bahan atau sampel diletakkan di dalam neraca lalu lihat angka yang tertera pada layar, angka itulah yang merupakan berat dari bahan atau sampel yang di timbang.

Alasan mengapa orang-orang banyak menggunakan timbangan jenis ini adalah tingkat ketelitiannya sangat tinggi. Yang biasanya memiliki angka ketelitian 3 atau 4 digit angka setelah koma. Kenapa timbangan analitik banyak digunakan oleh farmasi? Karena jika membuat resep obat yang digunakan untuk mengobati penyakit itu, harus di timbang secara akurat atau teliti dan berdasarkan jumlah dosisnya.

Jika apoteker atau petugas yang menimbang obat dalam takaran / dosis berlebih, maka akan berakibat overdosis bagi pasien yang akan membahayakan kesehatan dan nyawa pasien itu sendiri. Oleh karena itu, takaran bobot obat harus tepat sehingga timbangan obat digunakan juga harus teliti dan akurat. Dalam melakukan penimbangan suatu zat dengan neraca analitik, ada banyak faktor yang dapat menyebabkan ketidakakuratan dari hasil data yang dihasilkan atau diukur. Faktor-faktor tersebut diantaranya dapat berupa getaran yang ada di sekitar tempat menimbang.

Cara kerja neraca analitik:

  1. Siapkan neraca analitik dalam kondisi yang seimbang atau water pass yang sudah pada bulatan.
  2. Bersihkan bagian dalam dari neraca analitik dengan menggunakan kuas. Piringan neraca dapat di angkat dan seluruh timbangan dapat dibersihkan dengan menggunakan etanol / alkohol.
  3. Colokkan neraca analitik ke listrik.
  4. Tekan tombol On kemudian tunggu hingga muncul angka 0,0000 g.
  5. Masukkan alas untuk bahan atau sampel, seperti gelas arloji, kertas atau benda tipis. Dengan cara membuka kaca tidak begitu lebar supaya tidak mempengaruhi perhitungan karena neraca analitik ini sangat peka terhadap apapun.
  6. Tutup kaca neraca analitik.
  7. Tekan tombol zero supaya perhitungan lebih akurat dan teliti.
  8. Masukkan bahan atau sampel yang akan di timbang dengan membuka kaca tidak begitu lebar, begitu pun ketika akan menambahkan atau mengurangi bahan dengan berat sesuai yang diinginkan.
  9. Kemudian tutup kaca.
  10. Tunggu hingga angka yang ada pada di layar monitor neraca analitik tidak berubah-ubah dan sesuai dengan massa yang diinginkan.
  11. Ambil bahan yang telah selesai di timbang.
  12. Selanjutnya tekan tombol Off hingga tidak ada angka yang muncul di layar monitor neraca analitik.
  13. Lepas stop kontak dari Neraca analitik.
  14. Bersihkan bagian dalam neraca analitik kembali dengan menggunakan kuas. Piringan neraca dapat di angkat dan seluruh timbangan dapat dibersihkan dengan menggunakan etanol/alkohol.

Kekurangan dan Kelebihan Dari Neraca Analitik

Pada neraca analitik juga memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Berikut di bawah ini sedikit penjelasannya.

  • Kekurangan
  1. Alat ini memiliki batas maksimal yaitu 1 mg atau 210 g, jika melewati batas tersebut maka tingkat ketelitian perhitungan akan berkurang.
  2. Tidak dapat menggunakan sumber tegangan listrik yang besar, sehingga harus menggunakan stavolt. Jika tidak, maka benang di bawah pun akan putus.
  3. Harga yang mahal
  • Kelebihan neraca analitik
  1. Memiliki tingkat ketelitian yang cukup tinggi dan dapat menimbang zat sampai batas 0,0001 g atau 0,1 mg.
  2. Penggunaannya tidak begitu rumit jika dibandingkan dengan timbangan yang manual, sehingga lebih efisien dalam hal waktu dan tenaga.

4) Spektrofotometer

Dalam pengujian sampel kalian perlu mengenal dan mengetahui prinsip kerja dari berbagai alat instrument yang ada di laboratorium. Salah satu alat yang harus di kenal dan diketahui prinsip kerjanya dalam pengujian sampel adalah spektrofotometer.

Mengenal spektrofotometer pasti akan bersangkutan dengan metode kimia analisis. Spektrofotometri merupakan salah satu metode kimia analisis yang digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel, baik itu secara kuantitatif maupun kualitatif yang di dasarkan dengan interaksi antara materi dengan cahaya. Nah, alat yang di gunakan dalam spektrofotometri inilah yang kita kenal dengan sebutan spektrofotometer.

Spektrofotometer ialah alat yang di gunakan untuk mengukur absorbansi suatu larutan dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya akan di serap dan sisanya akan dilewatkan.

Alat instrument yang satu ini di lengkapi dengan sumber cahaya, baik cahaya UV (ultra violet) ataupun cahaya tampak (visible). Masing-masing cahaya pada alat ini berguna untuk menangkap objek dengan panjang gelombang yang berbeda.

Fungsi dari sinar UV digunakan untuk mengukur sampel yang terbaca dengan panjang gelombang di bawah 400 nm (nano meter). Sedangkan cahaya visible berfungsi untuk mengukur sampel dengan panjang gelombang 400 – 700 nm. Beberapa contoh sampel yang dapat di baca dengan alat yang tersebut dengan kepekatan warna dan dengan panjang gelombang adalah DNA / RNA (260 nm), protein (280 nm), kultur sel bakteri, ragi / yeast (600 nm) dan lain-lain.

Bagian Atau Komponen Spektrofotometer

Secara garis besar spektrofotometer terdiri dari 4 bagian penting yaitu :

  • Sumber Cahaya

Sebagai sumber cahaya yang ada pada spektrofotometer, maka harus memiliki pancaran radiasi yang stabil dan dengan intensitas yang tinggi. Sumber energi cahaya yang biasanya sering terlihat seperti ultraviolet dekat dan inframerah dekat merupakan sebuah lampu pijar dengan kawat seperti rambut yang terbuat dari wolfram (tungsten). Lampu ini mirip dengan bola lampu pijar biasa, dengan rata-rata panjang gelombang 350 – 2200 nanometer (nm).

  • Monokromator

Monokromator merupakan alat yang berfungsi untuk menguraikan cahaya polikromatis dan menjadi beberapa komponen dengan panjang gelombang tertentu (monokromatis) yang bebeda atau terdispersi.

  • Cuvet

Cuvet pada spektrofotometer merupakan suatu alat yang digunakan sebagai tempat untuk meletakkan sampel atau zat yang akan di analisis. Cuvet biasanya terbuat dari kwars, plexigalass, kaca, plastic dengan bentuk tabung empat persegi panjang 1 x 1 cm dan tinggi 5 cm. Pada pengukuran di daerah UV di pakai cuvet kwarsa atau plexiglass, sedangkan cuvet dari kaca tidak bisa di pakai karena kaca mengabsorbsi sinar UV. Semua macam cuvet dapat di pakai untuk pengukuran di daerah sinar tampak (visible).

  • Detektor

Fungsi detektor sebagai penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya yang ada di berbagai panjang gelombang. Detektor akan mengubah cahaya menjadi sinyal listrik yang selanjutnya akan ditampilkan oleh penampil data dalam bentuk jarum penunjuk atau angka digital.

Dengan mengukur panjang gelombang dari larutan sampel, dimungkinkan untuk menentukan konsentrasinya dengan menggunakan hukum Lambert-Beer yaitu Spektrofotometer akan mengukur intensitas cahayanya melewati sampel (I) dan kemudian membandingkan ke intensitas cahaya sebelum melewati sampel (Io). Rasio disebut transmittance, dan biasanya dinyatakan dalam bentuk (% T) sehingga bisa di hitung besar absorban (A) dengan rumus A = -log %T.

Nah, sekian dari saya untuk artikel yang ada di atas mengenai beberapa alat yang sering di gunakan di laboratorium pada umumnya. Semoga bermanfaat bagi kalian yang membacanya.