Setiap manusia pasti memiliki yang namanya emosional dan juga perasaan, baik itu perasaan senang, sedih, bahagia, gembira dan lain sebagainya. Sejak dilahirkan ke dunia, emosional dan juga perasaan tersebut telah ada dalam diri manusia. Oleh sebab itu, perasaan-perasaan tersebut tidak bisa untuk ditutupi. Ketika ada kabar baik tentunya kita akan merasa bahagia dan ketika mendengar kabar buruk tentunya kita akan merasa sedih.

Dapat dikatakan bahwa perasaan manusia akan berubah-ubah tergantung keadaan yang sedang dialaminya. Akan tetapi hal ini tidak terjadi dengan orang yang mengidap bipolar, karena orang dengan kondisi mental ini suasana hatinya bisa berubah dengan ekstrim. Orang yang mengidap bipolar bisa tiba-tiba senang lalu sepersekian detik lainnya bisa menjadi sangat sedih tanpa pandang suasana. Apa itu bipolar? Berikut penjelasannya.

Apa itu Bipolar

Bipolar disorder atau lebih dikenal dengan sebutan gangguan bipolar adalah sebuah gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan mood yang ekstrem yang berupa mania dan depresi, maka dari itu istilah medis sebelumnya disebut dengan manic depressive. Sering kali diantara kedua perubahan tersebut, pasien tetap mengalami kondisi mood yang normal.

Seseorang yang mengalami gangguan mental ini bisa merasa sangat antusias dan bersemangat (mania). Dan ketika merasa sedih, dia bisa merasa depresi, pesimis, putus asa, dan bahkan bisa mempunyai keeinginan untuk bunuh diri. Tetapi saat merasa senang, pasien akan merasa sangat bersemangat dan penuh gairah. Perubahan mood tersebut dapat terjadi beberapa kali dalam setahun.

Kondisi jiwa ini dapat menyebabkan rusaknya hubungan pribadi, rendahnya motivasi dan produktivitas di tempat kerja dan yang lebih buruk lagi dapat menyebabkan perasaan ingin melakukan bunuh diri. Oleh karena itu, orang-orang dengan bipolar disorder sangat disarankan untuk menghubungi bantuan medis saat mengalami perubahan mood yang signifikan.

Kondisi manik ekstrem kadang-kadang dapat menyebabkan gejala psikosis seperti delusi dan halusinasi. Kondisi manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara dua minggu sampai lima bulan. Sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama. Kondisi hipomanik mempunyai derajat yang lebih ringan daripada manik. Gangguan bipolar dibagi menjadi bipolar I, bipolar II, cyclothymia, dan jenis lainnya berdasarkan sifat dan pengalaman tingkat keparahan episode suasana hati; kisaran sering digambarkan sebagai spektrum bipolar.

Presentase gangguan bipolar lebih rendah dibandingkan dengan insiden yang dikategorikan skizofrenia, dimana ini hanya berkisar antara 0,3% – 1,5%. Bipolar saat ini sudah menjangkit sekitar 10 hingga 12 persen remaja di luar negeri. Dan dibeberapa kota di Indonesia juga mulai dilaporkan penderita berusia remaja. Resiko kematian terus membayangi penderita gangguan bipolar dan itu karena mereka lebih memilih untuk mengambil jalan pintas. Gangguan bipolar pada umumnya bisa ditandai dengan perubahan emosi yang drastis, seperti:

  • Perasaan senang tiba-tiba menjadi sangat sedih.
  • Perasaan percaya diri tiba-tiba menjadi pesimis.
  • Perasaan bersemangat tiba-tiba menjadi pemalas.

Tanda dan Gejala Bipolar

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa penderita bipolar dapat mengalami 2 fase yaitu manik (dan hipomanik) dan depresi. Namun, sebagai catatan, episode manik dan hipomanik sering disebut dua periode berbeda. Meski begitu, keduanya memiliki gejala yang sama.

Selama episode mania, beberapa ciri dan gejala lain yang dapat muncul, antara lain:

  • Merasa terlalu bahagia dan bersemangat.
  • Sangat sensitif dan mudah tersinggung.
  • Banyak makan.
  • Tidak terasa mengantuk karena merasa sangat berenergi.
  • Bersikap gegabah dan melakukan kegiatan-kegiatan yang berisiko.
  • Berbicara dengan sangat cepat dan mengubah topik pembicaraan dari satu topik ke yang lainnya.
  • Mengalami penurunan kemampuan untuk melakukan penilaian atau pembuatan suatu keputusan.
  • Anda bisa juga dapat melihat hal-hal aneh dan mendengar suara-suara misterius.
  • Memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan adanya euforia.

Sedangkan dalam episode depresi ada beberapa tanda dan gejala gangguan mental seperti:

  • Merasa sangat bersedih dan kehilangan harapan pada jangka waktu yang panjang.
  • Kehilangan ketertarikan dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
  • Nafsu makan menurun.
  • Merasa ngantuk dan malas.
  • Merasa terlalu sadar diri dan minder.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Memiliki pemikiran untuk bunuh diri.

Penyebab Gangguan Bipolar

Penyebab pasti dari gangguan bipolar belum diketahui. Akan tetapi, ada dugaan yang mengatakan bahwa gangguan bipolar merupakan dampak dari adanya gangguan pada senyawa alami yang berfungsi menjaga fungsi otak (neurotransmitter). Gangguan pada neurotransmitter ini sendiri diduga dipicu oleh beberapa faktor, seperti:

  • Faktor Genetik

Faktor umum yang menjadi penyebab dari gangguan bipolar adalah genetik bawaan. Jika seseorang terlahir dari orang tua yang mengidap gangguan bipolar maka anak tersebut memiliki resiko mengidap penyakit yang sama sebesar 15% hingga 30%. Bila kedua orang tuanya mengidap gangguan bipolar, maka si anak berpeluang mengidap gangguan bipolar sebesar 50%-75%.

Kembar identik yang mengidap ganguan bipolar memiliki resiko yang tinggi untuk kemungkinan berkembangnya penyakit ini dibandingkan dengan kembar yang tidak identik. Penelitian mengenai pengaruh faktor genetis pada gangguan bipolar pernah dilakukan dengan melibatkan keluarga dan anak kembar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 10% – 15% keluarga dari pasien yang mengalami gangguan bipolar pernah mengalami satu episode gangguan suasana hati.

  • Faktor Biologis

Ini merupakan gangguan yang disebabkan oleh kelainan pada zat kimiwai di sel saraf otak. Beberapa penelitian menunjukkan bagaimana otak dari penderita gangguan bipolar berbeda dengan struktur otak normal atau gangguan mental lain. Para ahli percaya gangguan bipolar disebabkan oleh gangguan pada sirkuit otak tertentu. Ketidakseimbangan ini ditunjukkan antara lain oleh respon penderita terhadap obat-obatan yang bekerja pada sistem saraf tersebut.

  • Faktor Psikososial

Peristiwa dalam kehidupan yang penuh tekanan akan menyebabkan perubahan dalam biologi di otak maupun perubahan signal dalam saraf. Informasi yang dialami akan disimpan di dalam otak yang akan terpanggil kembali pada satu kejadian yang membangkitkan memori. Proses memori terjadi meskipun tidak ada sesuatu yang berasal dari luar yang memicunya.

Jenis dari Gangguan Bipolar

Gangguan dari bipolar juga memiliki beberapa jenis. Adapun jenis tersebut adalah sebagai berikut ini:

  • Bipolar Tipe 1

Gangguan yang satu ini ditandai dengan manik defresif, yaitu adanya perubahan mood yang cenderung drastis. Seseorang yang mengidap gangguan ini bisa mengalami mania, yaitu kesenangan dan kegembiraan yang berlebihan, over aktivitas fisik, banyak bicara, hingga penurunan kebutuhan tidur. Hal ini bisa diikuti dengan mengalami depresi, mulai dari suasana hati normal, berubah sedih yang mendalam, cepat marah, mudah tersinggung, tidak sabar, dan cepat berubah pikiran.

  • Bipolar Tipe 2

Pada gangguan yang ini, penderita depresi bipolar cenderung memiliki energi yang sangat rendah, kesehatan mental dan fisik yang agak terbelakang. Pada gangguan bipolar ini, seseorang akan mengalami episode depresi yang berat dan satu episode hipomanika, yaitu gangguan tidur yang ditandai oleh kebutuhan untuk tidur berlebihan atau kantuk yang tiba-tiba. Mereka cenderung memiliki periode depresi yang lebih lama dibandingkan dengan orang dengan gangguan bipolar I.

  • Cyclothymia

Jenis gangguan yang satu ini akan mengalami kegembiraan yang berlebih dalam jangka waktu lama dengan gejala depresi yang tidak begitu kentara atau siklus hipo-mania. Penderita gangguan yang satu ini mungkin tidak terlihat depresi sama sekali. Akan tetapi, penderita cyclothymia akan mengembangkan bipolar 1 atau 2 yang parah.

  • Bipolar (NOS)

Bipolar NOS ini merupakan bipolar yang tidak teridentifikasi. Dalam arti, mereka mengalami beberapa gejala bipolar, namun bisa muncul dan hilang atau mengalami gejala gangguan mental yang hampir sama dengan bipolar namun tidak spesifik dan tidak mudah dikenali seperti gejala bipolar lain.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa gangguan mental bipolar yang terlihat biasa saja ternyata bisa sangat berbahaya bagi pengidapnya. So, bagi Anda yang yang mengidap gangguan mental yang satu ini cepatlah untuk melakukan konsultasi kepada dokter dan melakukan pencegahan sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.