• Army Demonstration...The Iranian Islamic Republic Army demonstrates in solidarity with people in the street during the Iranian revolution. They are carrying posters of the Ayatollah Khomeini, the Iranian religious and political leader. (Photo by Keystone/Getty Images)
    Army Demonstration...The Iranian Islamic Republic Army demonstrates in solidarity with people in the street during the Iranian revolution. They are carrying posters of the Ayatollah Khomeini, the Iranian religious and political leader. (Photo by Keystone/Getty Images)

Intip Yuk 10 Revolusi Paling Dahsyat Di Dunia

May 24, 2017 3252 Views

Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Banyak revolusi yang terjadi di seluruh dunia dan mempunyai latar belakang yang berbeda. Pada pembahasan kali ini, kita akan membahas tentang revolusi yang paling dasyat dan di ingat sepanjang masa.

1. Intifadah

Tanggal 9 Desember 1987 menjadi hari yang tak terlupakan di bumi Palestina. Hari itu, meletuslah sebuah perang perlawanan terhadap Zionis Israel. Semua yang ada di Palestina merapatkan barisan, menjadi satu shaff, tua muda, laki-laki dan sebagian perempuan. Media menyebut waktu itu sebagai “Pertempuran terdahsyat sejak proklamasi negara Zionis Israel tahun 1948.

Intifada berasal dari kata berbahasa Arab intifadlah dari asal kata nafadla yang berarti gerakan, goncangan, revolusi, pembersihan, kebangkitan, kefakuman menjelang revolusi, dan gerakan yang diiringi dengan kecepatan dan kekuatan. Intifada pertama kali dipakai sebagai nama oleh sebuah kelompok perjuangan Palestina yang membelot dari Gerakan Fatah. Namun kini kata itu lekat dengan gerakan kebangkitan baru rakyat Palestina.

Pada dekade 1980-an, rakyat Palestina secara serentak bangkit melakukan perlawanan menentang rezim Zionis Israel. Sejak itu, intifada dipakai untuk menyebut gerakan yang muncul secara tiba-tiba, serentak, independen, agresif, universal, dengan kesadaran dan rasa protes, serta dengan penuh keberanian. Gerakan itu dilakukan oleh rakyat Palestina dalam menghadapi rezim Zionis Israel.

Hebatnya, pada Intifadhah yang pertama kali meletus, Palestina berperang tanpa persenjataan dan tanpa dibantu negara-negara Arab tetangganya. Saat itu, rakyat Palestina tidak memiliki sarana dan fasilitas apapun dalam perjuangan membebaskan negeri mereka melawan tentara Zionis. Mereka bersenjatakan batu untuk membela diri dan menyerang musuh.

Karena itu, intifada dekade 80-an disebut juga dengan revolusi batu. Meski hanya bersenjatakan batu, tetapi intifada ini sangat menakutkan bagi Israel. Sebab dalam kitab suci mereka tercatat kisah Nabi Daud as yang membunuh Jalut, raja yang kejam dan bengis dengan senjata batu. Tidak heran jika anak-anak Palestina kemudian selama bertahun-tahun sampai kini dikenal dengan sebutan “Children of Stone” atau anak-anak batu.

2. Perang Saudara Libanon (1975-1990)

Lebanon / Libanon adalah nama dari sebuah negara kecil yang terletak di pesisir timur Laut Mediterania. Sebagai akibat dari dominannya sektor perbankan & pariwisata dalam menyumbang pemasukan bagi pemerintah Lebanon, negara itupun mendapat julukan “Swiss dari Timur” / “Swissnya Timur Tengah”. Bahkan Beirut yang menjadi ibukota dari Lebanon juga mendapat julukan “Parisnya Timur Tengah” berkat bangunan-bangunan dengan arsitektur bergaya Perancisnya. Sayang, semua julukan berbau positif tadi lenyap seketika akibat perang sipil yang membakar Lebanon.

Perang sipil Lebanon (Lebanese civil war) adalah perang saudara yang terjadi di Lebanon pada tahun 1975 hingga 1990. Agak sulit menjelaskan perang sipil Lebanon sebagai konflik antara siapa melawan siapa akibat banyaknya kelompok yang terlibat & seringnya terjadi pergeseran aliansi. Namun secara garis besar, perang sipil Lebanon bisa dideskripsikan sebagai konflik antara ekstrimis Muslim & sayap kiri melawan ekstrimis Kristen & sayap kanan. Dari luar Lebanon, negara-negara seperti Israel & Suriah juga ikut terlibat secara langsung dalam konflik. Akibat perang sipil Lebanon, ratusan ribu rakyat Lebanon kehilangan nyawanya & kondisi infrastruktur negara tersebut luluh lantak.

3. Revolusi Kuba (1952-1958)

Revolusi Kuba merupakan pemberontakan bersenjata yang menuju pada kejatuhan diktator Kuba Fulgencio Batista y Zaldívar yang ditunggangi Amerika Serikat pada tanggal 1 Januari 1959 oleh Movimiento 26 de Julio yang dipimpin oleh Fidel Alejandro Castro Ruz. Sejak kemerdekaannya pada tahun 1898, Kuba dipimpin oleh sejumlah presiden yang lemah dan korup. Pada tahun 1933, diktator lalim Gerardo Machado dijungkirkan oleh kudeta yang dilakukan oleh Fulgencio Batista y Zaldivar.

Pada tahun 1944, Fulgencio Batista memerintahkan untuk melegitimasi kekuasaannya melalui pemilu demokratis, namun kalah. Pada tahun 1952, ia kembali mendapatkan kekuasaan setelah melancarkan kudeta. Penentangan mulai meruyak, salah satunya adalah pimpinan terpenting gerakan anti-Batista, seorang pengacara bernama Fidel Castro dari Santiago de Cuba.

Pada tanggal 26 Juli 1953, kelompok pemberontak yang beranggotakan 119 orang menyerang Barak Moncada di Santiago de Cuba. Banyak di antara mereka yang terbunuh dalam serbuan itu, sementara yang tetap hidup, seperti Fidel Castro dan saudaranya Raul Castro ditangkap segera setelahnya. Dalam pengadilan yang sarat muatan politik, mereka dijatuhi hukuman penjara. Castro divonis 15 tahun di Isla de Pinos. Setelah pemilu 1955, Batista membebaskan semua tahanan politik, termasuk penyerbu Moncada.

Castro Bersaudara mengungsi ke Meksiko dan bergabung dengan orang-orang Kuba yang siap membebaskan negerinya. Selama masa itu, Castro juga bertemu dr. Che Guevara dari Argentina, yang bergabung dengan angkatan mereka. Pada bulan Desember 1956, 82 pemberontak meninggalkan Meksiko menumpang perahu Granma menuju Kuba. Semuanya terbunuh dalam pertempuran pertama begitu mendarat di daerah yang kini menjadi Provinsi Granma, kecuali 12 orang. Castro Bersaudara dan Guevara termasuk orang-orang yang selamat.

4. Revolusi Iran (1978-1979)

Iran, menjadi perhatian internasional dalam beberapa tahun terakhir, juga di tahun 70-an. Selama 60an dan 70an, Iran diperintah oleh Shah Mohammad Reza Pahlevi. Shah (atau ‘raja’) memulai serangkaian reformasidi awal 60-an (ironisnya disebut Revolusi Putih) yang sangat membatasi otoritas keagamaan tradisionaldan pengaruh di negara ini. kecenderungan Shah lebih sekuler, Amerika Serikat memberikan dukungan keuangan kepada rezim (mempromosikan stabilitas regional dan masalah keamanan lainnya).

Sayangnya, untuk Shah, reformasi pemerintahannya tidak berjalan dengan baik saat menghadapi ulama Iran atau sebagian besar rakyat di negeri ini.Dari ketidakpuasan ini datang Ayahtollah, Ruhullah Khomeini.Ayahtollah (harfiah berarti”karunia Allah”, dan merupakan istilah untuk seorang sarjana agama) tahun 1963 mulai melakukan pembangkangan terhadap pemerintah Shah. Ia khususnya mengecam pengaruh Barat dan khususnya Amerika dalam urusan Iran. Meskipun Ayahtollah diasingkan, ia terus menabur benih-benih revolusi dari Irak dan kemudian Perancis.

Itu semua memuncak pada tahun 1978 sebagai demonstrasi (dilakukan sekitar 20.000 orang)yang ditembaki oleh pasukan keamanan pemerintah. Ini adalah hari yang dikenal sebagai Black Friday. Ratusan mahasiswa tewas dan ribuan lainnya terluka. Dalam beberapa bulan, demonstran menjalar sebagai kerusuhan di seluruh negeri, menyerang setiap simbol yang disebut “dekadensi” Barat (tokominuman keras, bank, lembaga pemerintah, dll).

Akhirnya, tentara yang tidak puas memberontak dan menyerang petugas penjaga Imperial Shah. Ini adalah lonceng kematian Shah dan pada tahun 1979 ia melarikan diri negara itu, meninggalkan Ayatollah Khomeini dan rencananya untuk mendirikan negara Islam. Tak lama setelah ini kedutaan AS di Iran diambil alih oleh militan (karena AS mendukung Shah) dan personel kedutaan dijadikan sebagai sandera. Sisanya – tentu saja – adalah sejarah.

5. Revolusi Mesir

Mesir merupakan salah satu negara yang pernah dijajah Inggris. Semasa zaman penjajahan itu telah menumbuhkan semangat nasionalisme dalam diri masyarakat Mesir untuk berjuang menggapai kemerdekaan negaranya. Inisiatif untuk melakukan gerakan pemberontakan sudah menggebu-gebu dalam diri para perwira muda militer yang selama ini berada dibawah kontrol kerajaan. Pada tahun 1939, para perwira muda tersebut mendirikan Organisasi Perwira Bebas yang merupakan sebuah organisasi rahasia pertama yang beranggotakan perwira-perwira angkatan bersenjata. Organisasi Perwira Bebas ini kemudian kian berkembang pesat. Para perwira yang tergabung dalam organisasi ini berencana melakukan perlawanan bersenjata untuk menolak kehadiran Inggris di Mesir.

Kudeta dilakukan atas dasar ketidakpuasan para perwira terhadap kekuasaan Farouk yang bergaya kemewahan. Raja Farouk yang masih remaja ini hidup dalam kemewahan. Kendati memiliki banyak tanah yang luas, istana megah, dan dan ratusan mobil, raja Farouk tidak pernah merasa puas dengan kekayaannya itu. Bahkan raja Farouk sering melancong ke Eropa untuk berbelanja. Selain itu pada masa-masa sulit semasa Perang Dunia II, Raja Farouk sering dikritik karena cara hidupnya yang mewah. Keputusan Raja Farouk untuk tetap menyalakan semua lampu istananya di Alexandria saat seluruh lampu di kota dimatikan ketika terjadi pengeboman yang dilakukan tentara Italia, menyebabkan Raja Farouk kian dibenci.

6. Perang Saudara Bosnia (1992-95)

Bosnia atau lengkapnya Bosnia & Herzegovina adalah nama dari sebuah negara kecil yang terletak di Semenanjung Balkan. Negara yang beribukota di Sarajevo ini dikenal sebagai 1 dari sedikit negara Eropa yang memiliki populasi penduduk Muslim dominan. Bosnia juga dikenal sebagai salah satu negara termuda di Eropa karena negara ini baru mendapatkan kemerdekaannya pada dekade 90-an. Upaya Bosnia untuk mendapatkan kemerdekaan sendiri sama sekali tidak mudah karena dalam prosesnya, Bosnia sempat menjadi arena dari salah satu konflik bersenjata paling mengerikan di abad ke-20 Perang Bosnia.

Perang Bosnia (Bosnian War; Rat u Bosni) adalah sebutan untuk perang yang terjadi di wilayah Bosnia-Herzegovina (saat itu masih menjadi bagian dari wilayah Yugoslavia) antara tahun 1992 hingga 1995. Secara garis besar, perang ini merupakan konflik bersenjata antara etnis Bosniak, etnis Kroasia / Kroat, & etnis Serbia / Serb yang memiliki kepentingannya masing-masing. Etnis Bosniak ingin menjadikan Bosnia sebagai negara merdeka. Etnis Kroasia ingin menggabungkan sebagian wilayah Bosnia dengan wilayah negara Kroasia. Sementara etnis Serbia yang sedang mendominasi pemerintahan Yugoslavia ingin mempertahankan keutuhan sisa-sisa wilayah Yugoslavia.

Perang Bosnia merupakan konflik terbesar & terparah dalam periode disintegrasi Yugoslavia yang berlangsung selama dekade 90-an. Selama perang, banyak terjadi aksi pembantaian antar etnis di mana aksi-aksi tadi didominasi oleh pasukan dari etnis Serbia. Penyebab utama mengapa intensitas perang di Bosnia bisa sedemikian parah adalah karena Bosnia merupakan negara bagian Yugoslavia yang komposisi penduduknya paling beragam & lokasinya tepat berada di tengah-tengah Yugoslavia. Ketika perang berakhir, Bosnia menjadi negara merdeka dengan sistem pemerintahan yang sudah dirancang sedemikian rupa untuk mencegah dominasi etnis tertentu dalam pemerintahan Bosnia.

Karena etnis-etnis yang terlibat dalam Perang Bosnia memiliki komposisi agama mayoritas yang berbeda 1 sama lain, Perang Bosnia lantas menjadi magnet bagi relawan-relawan asing untuk ikut berperang di Bosnia atas dasar solidaritas agama & etnis. Sebagai contoh, etnis Bosniak yang mayoritasnya beragama Islam dibanjiri oleh milisi-milisi mujahidin yang datang dari Timur Tengah & minoritas Muslim di negara-negara Barat. Sementara etnis Kroasia yang mayoritasnya Katolik mendapat bantuan dari para anggota Neo-Nazi di negara-negara Eropa Barat & Utara. Etnis Serbia yang mayoritasnya Kristen Ortodoks sendiri mendapat bantuan dari para relawan Yunani & negara-negara pecahan Uni Soviet

7. Pemberontakan Kosovo(1997-1999)

Perselisihan di Kosovo sangat berbelit-belit .Masalah utama (jika benar-benar ditelaah sampai ke akar masalah) adalah ketegangan etnis antara Serbia dan Albania. Kata lain, mereka tidak menyukai satu sama lain; alasan yang berhubungan dengan hal-hal yang terjadi di tengah-tengah sejarah. Namun demikian, Kosovo menjadi area (terletak di negara berdaulat Serbia dan Montenegro) sebagian orang aakan menganggap daerah suci Serbia.Namun, karena begitu terjadi, Kosovo memiliki populasi yang sekitar 80% Albania.

Tentu saja, Albania akan memilih untuk tidak menjadi bagian dari Serbia Montenegro dan hal terjadi dan bukannya telah menyuarakan keinginan mereka untuk baik menjadi negara berdaulat di kanan mereka sendiri atau untuk menjadi bangsa yang berdaulat Albania. Tentu saja minoritas Serbia di Kosovo tidak setuju. Untuk tujuan ini, Albania Kosovo memutuskan untuk melawan .Menyebut diri Tentara Pembebasan Kosovo, mereka berangkat untuk menyerang target Serbia. Sebagai pembalasan, pasukan Serbia meluncurkan serangan dan mencoba melenyapkan penduduk Albania di Kosovo, Kekerasan mengakibatkan ratusan mati dari etnis Albania di Kosovo dan lebih dari 200.000 orang Albania mengungsi.

Kebrutalan pasukan Serbia bergabung dengan pemberontak di perbukitan . Pada tahun 1999, PBB yakin bahwa pasukan Serbia berniat melakukan genosida dengan sepenuhnya memusnahkan populasi orang Albania di Kosovo (sekitar 1,5 juta orang). NATO campur tangan dan akhirnya kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan ditandatangani. Pada saat ini, diperkirakan bahwa lebih dari 4.000 mati dan 600.000 mengungsi dari etnis Albania Kosovo, meskipun sebagian besar kembali di bawah perlindungan pasukan pemelihara perdamaian PBB. Kosovo tetap menjadi wilayah di bawah kedaulatan Yugoslavia, tetapi pada dasarnya merupakan wilayah yang dilindungi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

8. Revolusi Chechnya

Pasukan Rusia memasuki Chechnya pada bulan Desember 1994, untuk mencegah usaha Chechnya memisahkan diri dari Federasi Rusia dan setelah hampir 2 tahun berperang, sebuah kesepakatan damai tercapai. Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, resolusi panggilan Chechnya untuk kemerdekaan ditunda hingga 5 tahun. Puluhan ribu warga sipil terbunuh dan lebih dari 500.000 orang mengungsi sejak konflik dimulai.

Asal-usul konflik itu rumit. Hubungan antara Rusia dan rakyat Chechnya sudah lama diperdebatkan, berpacaran dengan masa ekspansi Rusia di Kaukasus di abad ke-19. Sejak aneksasi paksa mereka ke kekaisaran Rusia, orang-orang Chechen tidak pernah dengan sukarela menerima peraturan Rusia. Selama Perang Saudara Rusia (1917-20), orang-orang Chechnya mendeklarasikan kedaulatan mereka sampai Tentara Merah menekan mereka pada tahun 1920. Terletak di lereng utara Pegunungan Kaukasus dalam jarak 100 kilometer dari Laut Kaspia, Chechnya sangat penting bagi Rusia untuk dua alasan. Pertama, jalur akses menuju Laut Hitam dan Laut Kaspia beralih dari pusat federasi melalui Chechnya. Kedua, hubungan pipa minyak dan gas Rusia yang penting dengan Kazakstan dan Azerbaijan juga berjalan melalui Chechnya.

Republik Chechnya Federasi Rusia di Kaukasus utara mendeklarasikan dirinya independen dari Federasi Rusia pada tahun 1991 di bawah kepemimpinan Dzhokar Dudayev yang merupakan seorang mantan pilot Penerbangan Strategis Soviet (DIONAL Aviatsia) yang menerbangkan pembom nuklir selama bertahun-tahun. Deklarasi kemerdekaan penuh yang dikeluarkan pada tahun 1993 oleh pemerintah Chechen Dudayev menyebabkan perang sipil di republik tersebut dan beberapa upaya pendukung Rusia untuk menggulingkan Dudayev gagal pada tahun 1993 dan 1994.

Pada musim panas 1994, Pemerintah Rusia mengintensifkan tuntutannya terhadap Pemerintah Presiden Dudayev yang memisahkan diri, menuduhnya menindas perbedaan pendapat politik, korupsi dan keterlibatan dalam kegiatan kriminal internasional. Chechnya telah menjadi pos terdepan dalam kejahatan terorganisir, penyelundupan senjata dan penyelundupan narkoba. Beberapa kelompok oposisi bersenjata yang didukung secara finansial dan militer oleh badan pemerintah Rusia berusaha untuk menggulingkan Presiden Dudayev. Pada bulan Agustus 1994 mereka membom sebuah stasiun telepon dan jalur kereta api Moskow-Baku. Pemerintah Dudayev menyalahkan tindakan oposisi politik dan memperkenalkan keadaan darurat yang diikuti pada bulan September 1994 oleh darurat militer.

9. Revolusi Amerika (1775-1783)

Perang Revolusi Amerika Serikat (1775–1783), Perang Kemerdekaan Amerika Serikat atau Perang Revolusi saja di Amerika Serikat, berawal sebagai sebuah perang antara Kerajaan Britania Raya dan Amerika Serikat yang baru berdiri, namun perlahan menjadi perang global antara Britania di satu sisi dan Amerika Serikat, Perancis, Belanda dan Spanyol di sisi lainnya. Perang ini dimenangkan oleh Amerika Serikat dengan hasil yang bercampur dengan kekuatan lainnya.

Perang ini merupakan akibat dari Revolusi Amerika Serikat. Para kolonis bangkit karena Undang-Undang Stempel 1765 yang dikeluarkan Parlemen Britania Raya tidak konstitusional. Parlemen Britania menegaskan bahwa mereka punya hak untuk memberlakukan pajak pada para kolonis. Kolonis mengklaim bahwa karena mereka penduduk Britania, perpajakan tanpa perwakilan rakyat dianggap ilegal.

Kolonis Amerika Serikat membentuk Kongres Kontinental yang bersatu dan pemerintahan bayangan di setiap koloni, meski pada awalnya masih setia kepada Raja. Pemboikotan Amerika Serikat terhadap teh Britania yang terkena pajak mendorong terjadinya peristiwa Pesta Teh Boston tahun 1773, yang merupakan penghancuran muatan teh kapal Britania. London menanggapinya dengan mengakhiri pemerintahan mandiri di Massachusetts dan meletakkannya di bawah kendali pasukan Britania dengan Jenderal Thomas Gage sebagai gubernurnya. Pada bulan April 1775, Gage mengetahui bahwa persenjatan sedang dikumpulkan di Concord dan ia mengirimkan tentara BRitania untuk merampas dan menghancurkannya.

10. Perang Saudara Amerika (1861-1865)

Perang Antara rakyat Amerika adalah kontes militer paling mematikan dalam sejarah Amerika. Perang ini mengadu anak melawan ayah dan saudara melawan saudara. Pada 1800-an, masyarakat Amerika menemukan dirinya terbelah menjadi dua wilayah regional yang berbeda dan bersaing yaitu, Utara dan Selatan. Masalah utama, jika disuling ke satu faktor tunggal yang memicu nafsu orang-orang ke titik perang sipil adalah perbudakan.

Selatan tergantung pada perbudakan sebagai kekuatan kerja yang memungkinkan mereka berbasis ekonomi pertanian (tergantung pada tumbuh dan mengekspor kapas). Utara, di sisi lain, tidak tergantung pada tenaga kerja budak, imigran dimanfaatkan untuk bekerja di pabrik-pabrik dan membangun infrastruktur. Dengan pemilihan Abraham Lincoln menjadi presiden, negara-negara Selatan merasa bahwa pengaruh politik mereka dalam bahaya mengerikan dan memisahkan diri dari Amerika Serikat.Presiden Lincoln tidak dapat menerima hal ini.

Pasukan konfederasi yang baru terbentuk Serikat kemudian mengambil perjuangan untuk Union. Union awalnya tidak siap untuk berperang. Sementara Utara memiliki tentara yang lebih besar dan memiliki lebih banyak sumber daya, kekuatan mereka tidak cukup terpimpin (setidaknya dalam kampanye timur). Konfederasi, di sisi lain, akan menghasilkan beberapa pemimpin militer Amerika terbesar.

Gagal untuk mendapatkan dukungan asing (yang merupakan elemen yang memungkinkan Amerika selama Revolusi untuk mengalahkan Inggris, Konfederasi tidak bisa bertahan lama dengan sumber daya yang tersedia di Utara. dan perjuangan menjadi sangat berdarah. Lebih dari 600.000 pria kehilangan nyawa mereka dalam konflik ini, dengan lebih dari satu juta korban. Kerusakan properti miliaran dolar Dan sementara lebih dari 4 juta budak diberi kebebasan . dan negara itu bersatu kembali, bekas luka emosional dari perang yang mendalam pada tingkat tertentu, tetap membekas hari ini.

Itulah beberapa revolusi yang mungkin sebelumnya belum anda ketahui. Semoga artikel di atas bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi anda.