Kisah Pangeran Diponegoro

November 29, 2016 9804 Views

Pangeran Diponegoro lahir sekitar 11 November 1785, Ia wafat pada umur 69 tahun di makassar sekitar 8 januari 1855. Ia dikenal sebagai pahlawan Nasional Republik Indonssia. Pangeran Diponegoro adalah putra sulung dari Hamengkubuana III yang sebagai raja Mataram di Yokyakarta  dan ibunya yang bernama RA Mangkarawati yang berasal dari pacitan. Saat Pangeran Diponegoro masih kecil, Ia dikenal dengan nama Raden Mas Ontowiryo.

Saat menyadari sebagai anak seorang Gundik, Keinginan ayahnya di tolak oleh Pangeran Diponegoro untuk di angkat menjadi Raja. Pangeran mempunyai 3 Istri yang bernama Raden Ayu Bendara Antawirya, Raden Ayu Ratna Ningsih dan Raden Ayu Ratnaningrum.

Perang Jenderal Diponegoro ketika Belanda menguasai Tegalrejo yang pada waktu itu belanda tidak menghormati Adat Istiadat Tegalrejo. Dengan itu, Pangeran Diponegoro secara terbuka menantang Belanda dengan mencari dukungan rakyat Dan pangeran Diponegoro dengan membuat Gua sebagai markas yang disebut Gua Selarong.

Selama perang, Belanda memiliki kekuatan Atau prajurit sekitar 15.000 tentara. Ada beberapa upaya Belanda untuk mengejar Pangeran Diponegoro dengan memberikan sebesar 50.000 Gulden yang dapat diberikan kepada siapa saja yang berhasil menangkap pangeran Diponegoro dan sekitar tahun 1830, Akhirnya Pangeran Diponegoero berhasil di tangkap.

Sekitar 16 Februari 1830, Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens melakukan pertemuan di Remo Kamal, Bagelen. Cleerens mengusulkan bahwa Pangeran dan para pengikutnya untuk tinggal di Menoreh sambil menunggu kedatangan Jenderal Markus de Kock Batavia.

Sekitar 28 maret 1830, Jenderal Diponegoro memenuhi pertemuan dengan Jenderal De Kock di Magelang. Dalam pertemuan mereka, Pangeran De Kock mendesak Pangeran Diponegoro untuk menghentikan perang dan permintaan itu di tolak oleh pangeran Diponegoro.

Perang Jawa adalah perang yang berlangsung selama 5 tahun sekitar 1825 sampai 1830 di Jawa.  Perang kolonial Belanda yang di pimpin oleh Jenderal De Kock terhadap penduduk Asli Indonesia yang di pimpin oleh Pangeran Diponegoro. Dalam perang ini, tidak sedikit korban yang berjatuhan sekitar 8000 Orang.