Sejarah dan Alasan Lampu Lalu Lintas Berwarna Merah, Hijau dan Kuning

March 31, 2017 4552 Views

Merah berarti “berhenti,” hijau berarti “jalan” dan kuning berarti “pelan-pelan”. Mengapa harus warna itu? Mengapa tidak biru, ungu dan cokelat? Jawabannya ternyata sedikit berbelit-belit tetapi masuk akal. Karena sebenarnya lampu lalu lintas paling awal dirancang untuk kereta bukan untuk mobil. Lalu bagaimana asal mula lampu lalu lintas? Terus gimana pula dengan simbol warna-warnanya? Nah, untuk mengatasi kebingungan itu, mimin udah merangkum beberapa informasi yang dapat berguna untuk mengatasi kebingungan tersebut. Mau tahu? Cek aja dibawah ini langsung.

Merah adalah simbol warisan dari rel kereta api

Merah melambangkan bahaya dalam banyak budaya, mengingat warna itu memiliki gelombang terpanjang pada spektrum, yang berarti Anda dapat melihatnya dari jarak yang lebih jauh daripada warna lainnya. Sementara beberapa spesifik sejarah mengatakan bahwa skema warna lampu ini berasal dari sistem yang digunakan oleh industri kereta api sejak tahun 1830-an. Pada saat ini, perusahaan kereta api telah mengembangkan sarana lampu untuk membiarkan kereta insinyur tahu kapan harus berhenti atau pergi. Warna-warna tersebut mewakili setiap tindakan yang berbeda. Mereka memilih merah sebagai warna untuk berhenti, karena merah telah digunakan selama berabad-abad untuk menunjukkan bahaya.

Hijau berarti “jalan”

Saat ini warna hijau digunakan sebagai tanda kamu boleh berjalan. Tapi tahu nggak, pada saat pertama kali dipergunakan, warna hijau digunakan untuk menandakan kamu harus berhati-hati sedangkan ketika warna putih menyala, kereta baru boleh berjalan. Tapi penggunaan warna putih ternyata menimbulkan banyak masalah. Contohnya insiden tahun 1914, dimana lensa berwarna merah jatuh dari tempatnya, sehingga yang terlihat adalah warna putih dari lampu. Kereta yang mengira lampu yang menyala adalah warna putih sehingga ia terus berjalan dan akhirnya malah menabrak kereta yang lain. Maka dari itu kemudian disepakati perubahan warna, merah artinya berhenti, hijau artinya berjalan sedangkan untuk tanda hati-hati digunakan warna kuning.

Kuning berarti “hati-hati”

 

Dari hari-hari awal otomotif sampai pertengahan 1900-an, tidak semua tanda berhenti ditandai dengan warna merah, karena banyak juga yang menandainya dengan warna kuning. Karena pada malam tidak mungkin orang melihattanda berhenti merah di daerah yang remang-remang. Kuning ditandai sebagai simbol berhenti oleh Detroit pada tahun 1915, sebuah kota yang menginstal warna lampu lalu lintas pertamanya.

Di London, Inggris pada tahun 1865, ada kekhawatiran atas jumlah lalu lintas yang menyebabkan bahaya bagi pejalan kaki yang mencoba untuk menyeberang jalan. Seorang insiniur dan manajer kereta api bernama John Peake Knight, mereka mengkhususkan diri dalam merancang sistem sinyal untuk kereta api Inggris, mereka juga memberikan saran kepada Polisi Metropolitan untuk menggunakan semaphore atau sistem untuk lalu lintas jalan. Pada siang hari, metode semaphore ini dilakukan dengan menggunakan alat yang bisa dinaikkan atau diturunkan oleh petugas polisi. Pada malam hari, sistem itu dilakukan dengan menggunakan warna merah dan hijau untuk berhenti dan jalan.

Proposal yang diajukan John Peake Knight diterima dan pada tanggal 10 Desember 1868, sistem ini diberlakukan di persimpangan Great George dan Bridge Street di London dekat Parlemen. Sistem ini bekerja sangat baik selama sekitar satu bulan. Saat salah satu jalur gas yang memasok lampu mulai bocor, sayangnya polisi yang beroperasi tidak menyadari kebocoran dan akhirnya menjadi parah sehingga menyebabkan lampu menjadi terbakar dan meledak.

Pada akhir 1920-an, beberapa sinyal “otomatis” diciptakan. Yang pertama menggunakan metode sederhana mengubah lampu pada interval pada waktu tertentu. Namun ini memiliki kelemahan, beberapa kendaraan berhenti ketika tidak ada mobil yang ke arah lain. Seorang penemu bernama Charles Adler Jr punya ide untuk mengatasi masalah ini. Ia menemukan sinyal yang bisa mendeteksi kendaraan yang membunyikan klakson. Sebuah sinyal otomatis diciptakan oleh Henry A. Haugh. Sistem ini menggunakan dua strip logam yang bisa merasakan tekanan. Ketika mobil yang lewat mendorong dua strip secara bersama, cahaya akan segera berubah dan memungkinkan mobil untuk jalan.

Pada tahun 1935, Federal Highway Administration menciptakan “Manual on Uniform Traffic Control Devices”. Dokumen ini akhirnya menetapkan standar yang seragam untuk semua sinyal lalu lintas, rambu-rambu jalan dan trotoar markings yang berkaitan dengan topik sinyal lalu lintas dengan menggunakan indikator lampu merah, kuning dan hijau.

Itulah sejarah tentang pemilihan warna lampu lalu lintas yang sering kita lihat di sepanjang jalan raya.