“Thilafushi”, Pulau Bom Beracun

March 17, 2017 1663 Views

Maladewa bagai permata di Samudera Hindia. Keindahan baharinya luar biasa menarik wisatawan dari berbagai belahan dunia. Tapi siapa sangka negara kepulauan ini punya satu pulau yang dipenuhi sampah. Pulau sanpah yang terdapat di Maladewa adalah pulau Thilafushi.

Thilafushi adalah sebuah pulau buatan yang dibuat sebagai tempat pembuangan sampah kota yang terletak di Barat Malé, di antara Giraavaru dan Gulhifalhu di Maladewa Kaafu Atoll. Pulau Thilafushi adalah pulau yang terletak sekitar 7 kilometer dari ibukota Maladewa, Male dan dikenal dengan julukan Rubbish Island atau Pulau Sampah. Thilafushi juga merupakan rumah bagi pekerja migran yang kebanyakan berasal dari Bangladesh.

Thilafushi awalnya disebut “Thilafalhu” dengan panjang 7 km dan lebar 200 meter di daerah dangkal Laguna. Pada awal 1990-an adalah awal dimana pemerintah Male melakukan diskusi tentang upaya penanggulangan samapah di Male. Pada 5 Desember 1991, Thilafushi diputuskan sebagai tempat pembuangan sampah. 7 Januari 1992 adalah hari pertama dimana Thilafushi menampung sampah dari Male. Operasi dimulai dengan hanya 1 landing craft, 4 heavyload truk, 2 excavator dan satu roda loader.

Pada awal tahun operasi pembuangan limbah, lubang-lubang (juga dikenal sebagai sel) dengan volume 37.500 ft3 (1060 m3) digali, setelah itu mereka membangun dinding di sekeliling sel internal. Limbah yang diterima dari Malé disimpan ditengah pit yang diakhiri dengan lapisan puing-puing konstruksi dan kemudian diratakan dengan pasir putih. Saat ini Thilafushi memiliki sebuah tempat lebih dari 4.6 juta ft2 (0,43 km²).

Cepatnya pertumbuhan terestrial Thilafushi diamati oleh pemerintah. Pada bulan November 1997, diputuskan bahwa tanah disewakan kepada pengusaha yang tertarik untuk mengelola tanah sebagai keperluan industri. Awalnya hanya ada 22 pemegang sewa. Dalam 10 tahun terakhir, angka ini telah dua kali lipat menjadi 54 yang mengakibatkan lebih dari 1,2 juta kaki persegi (0.11 km² atau 27.5 hektar) tanah yang telah digunakan saat ini, yang menghasilkan kelebihan Rufiyaa 14 juta (sekitar USD1, 000, 000.00) per tahun.

Setelah itu, luas 0.2 km² (dikenal sebagai Thilafushi-2) yang direklamasi menggunakan pasir putih sebagai bahan untuk mengisi dan menyediakan daratan untuk industi yang lebih besar. Saat ini kegiatan industri (utama) di pulau adalah perahu manufaktur, semen pengepakan, pembotolan gas metana dan berbagai skala besar pergudangan.

Pada Maret tahun 2015, pemerintah Maladewa memutuskan untuk merelokasikan pelabuhan komersial dari Malé ke Thilafushi. Orang yang ada disekitar lingkungan Thilafushi mengatakan bahwa setiap hari ada lebih dari 330 ton sampah yang berasal dari Malé dibawa ke Thilafushi. Pada tahun 2005 diperkirakan bahwa 31.000 truk sampah yang diangkut ke Thilafushi setiap tahunnya, dimana sampah tersebut dibuang dalam tumpukan besar dan akhirnya digunakan untuk membangun kembali tanah dan meningkatkan ukuran pulau.

Ali Rilwan, seorang ahli lingkungan di Malé, mengatakan bahwa aki bekas dan asbes bisa berpotensi menjadi limbah berbahaya yang tercampur dengan limbah padat municipal dalam air. Meskipun totalnya dikit, limbah ini adalah sumber logam berat beracun dan itu dapat menjadi masalah ekologi dan kesehatan yang semakin serius di Maladewa”. Gerakan ekologi utama Maladewa telah menggambarkan pulau ini sebagai pulau bom beracun.

Meningkatnya jumlah ponsel dan pembelian peralatan elektronik di negara serta meningkatnya jumlah kedatangan turis dalam beberapa dekade terakhir menyebabkan peningkatan pembuangan baterai bekas dan berpotensi membahayakan lainnya. Jika hal ini terus berlanjut, maka hal ini bisa berdampak negatif bagi populasi laut.

Pada bulan Desember 2011, Dewan kota Malé sementara dilarang mengangkut sampah ke Thilafushi karena lonjakan limbah mengambang di pulau laguna dan hanyut ke laut. Dalam laporan BBC pada bulan Mei 2012, pulau limbah digambarkan sebagai “apokaliptik”.