Rencana NASA Mengubah Matahari Menjadi Kaca Pembesar Untuk Melihat Dunia Asing

March 17, 2017 1561 Views

Rencana menggunakan gravitasi pada pelensaan untuk melihat dunia asing dalam resolusi ultra tinggi

Para ilmuwan telah menyusun rencana radikal untuk menggunakan matahari sebagai teleskop besar, untuk memasuki efek yang dikenal sebagai pelensaan pada gravitasi untuk melihat dunia asing dalam resolusi ultra tinggi.
Rencana diungkapkan oleh para ilmuwan di Jet Propulsion Laboratory NASA selama lokakarya. Hal ini memungkinkan kita untuk bisa melihat sekilas exoplanets secara rinci yang sebelumnya belum pernah terjadi, dan mereka juga mengungkapkan tentang fitur permukaan dan tanda-tanda kelayakhunian. Sementara kebanyakan sistem sekarang hanya mengandalkan beberapa piksel untuk melihat dunia yang jauh, perangkat semacam ini pada dasarnya akan menggunakan gravitasi matahari sebagai kaca pembesar untuk mencapai 1000 x 1000 piksel pencitraan.

Para peneliti menunjukkan proposal lokakarya pada Planetary Science visi 2050 di Washington DC, yang bertujuan untuk mengidentifikasi tujuan yang dapat berpotensi diterapkan sebelum tahun 2050. Saat ini, teleskop dibatasi oleh ukuran dan dasar kaki. Namun, para ilmuwan mengatakan bahwa mereka bisa mendorong kemampuan pencitraan mereka lebih jauh dengan menggunakan matahari. Permukaan tinggi alami yang digunakan untuk pencitraan multi pixel exoplanets berada di sepanjang garis (wilayah) yang disebut sebagai fokus lensa gravitasi matahari (SGL) yang mengambil keuntungan dari gravitasi cahaya matahari dan akan berfokus pada bidang sumber cahaya yang mulai melemah dan sumber jauh di wilayah SGL. Rencananya para ilmuan akan mengerahkan teleskop optik berdasarkan efek ini, mereka akan mengeluarkan kemampuan untuk langsung exoplanets bumi seperti yang ada pada gambar dibawah ini.

Teori relativitas umum Einstein menjelaskan sebuah objek besar yang dapat bertindak sebagai lensa

Teori relativitas umum Einstein menjelaskan bahwa gravitasi menginduksi bias properti dalam ruang-waktu.
Ini berarti bahwa sebuah objek yang besar, seperti matahari, dapat bertindak sebagai lensa dengan menekuk cahaya.
“Sebagai akibatnya, gravitasional sinar cahaya akan sempat lewat dari sekitar massa pada pelensaan dan berkumpul di satu set focal point,” ungkap para ilmuwan. Pelensaan gravitasi terjadi ketika sebuah galaksi besar atau kluster galaksi membungkuk cahaya yang dipancarkan dari galaksi jauh. Dari semua badan sistem surya, hanya matahari yang cukup besar untuk jarak fokus yang berada dalam jangkauan sebuah misi realistis dari bumi. Melakukan hal ini akan membawa kemampuan untuk 1000 x 1000 piksel pencitraan dan spektroskopi, untuk melihat lebih banyak planet-planet yang jauh.

Berencana untuk meluncurkan sebuah medan magnet di sekitar Mars

NASA ilmuwan telah mengusulkan ide radikal untuk memulai sebuah Medan magnet di sekitar Mars, dengan harapan hal itu bisa melindungi planet merah dari intens angin matahari dan membenarkan manusia untuk mengeksplorasi bersama rovers.
Jim Green, Planetary Science Direktur Divisi NASA, mengungkapkan ide pada lokakarya Planetary Science visi 2050 di Washington DC. Proposal akan menciptakan dipol (sepasang bidang magnet) yang sama dan magnet malah membebankan Mars dan matahari yang berada pada titik yang dikenal sebagai Mars L1. Meda magnet buatan akan meletkkan Mars pada bagain ekor dan terlindung dari angin surya yang keras. Tanpa rentetan energi tinggi partikel, atmosfer Mars akan mulai terbangun kembali dengan sendiri dari waktu ke waktu. Hanya dalam hitungan tahun, simulasi menunjukkan planet bisa mencapai bidang yang sebanding dengan bumi. Meningkatkan tekanan akan menyebabkan khatulistiwa memanas, yang memicu kutub runtuh, kata Green. Hal ini akan melepaskan karbon dioksida, yang akan beralih ke gas dan mulai mengisi atmosfer akan menyebabkan suasana memanas, pencairan es dan memungkinkan untuk kembalinya air cair.

Namun, rencana akan menghadapi beberapa tantangan. Menurut Popular Mechanics teleskop tersebut hanya bekerja pada sistem ttik fokus tata surya saja, titik fokus dalam ruang antar bintang yang hampir 14 kali lebih jauh dari pada Pluto orbit. Bahkan sekarang, pesawat ruang angkasa Voyager 1 hanya dapat bepergian sekitar seperlima dari jarak ini dalam 50 tahun terakhir. Jika badan ruang yang melaksanakan peluncuran agresif menggunakan teknologi modern propulsi untuk mempercepat proses, hal ini juga bisa mencapai Voyager hanya beberapa tahun. Namun, hal itu masih akan mengambil 50 tahun tambahan untuk mendapatkan titik fokus terdekat.

Itulah rencana yang akan dilakukan para peneliti NASA yang meyakini hal ini pasti berhasil dan bisa menemukan dunia asing (lain) yang memiliki permukaan untuk layakhuni. Mungkin hal ini dilakukan untuk membuat dunia baru bagi manusia.