Asal Kisah Terjadinya Banyuwangi

January 11, 2017 3193 Views

Berdasarkan sejarah, Kerajaan Blambangan yang juga disebut sebagai Banyuwangi berdiri sekitar 18 Desember 1771 sebelum terjadinya perang Bayu Puputan yang sekarang dikenal sebagai Songgon. Berdasarkan cerita, Ada perang yang sangat hebat ketika Prajurit Blambangan yang dipimpin oleh Pangeran Pugar yang merupakan seorang anak dari Wong Agung Wilis saat menyerang pasukan VOC yang terjadi di Banyualit sekitar tahun 1768.

Pada saat penyerangan tersebut yang dipimpin oleh Pangeran Pugar, Sangat disayangkan bahwa pertempuran tesebut menerima kekalahan bagi kerajaan Blambangan karena pimpinan Prajurit Blambangan yang dikenal Pangeran Pugar tewas dalam pertempuran tersebut. Setelah kekalahan Kerajaan Blambangan, Ayah dari Pangeran Pugar Yaitu Wong Agung Wilis ditangkap dan dibawa ke pulau Banda. Sebelum Masuknya VOC yang ingin menguasai Blambangan dan sebelum dipimpin oleh Pangeran Pugar, Blambangan sudah dipimpin oleh banyak Pangeran seperti Pangeran Tawang Alun 1655-1691, Pangeran Sasranegara, Pangeran Mancanapua, Pangeran Danureja 1691-1736 dan Pangeran Danuningrat 1736-1763.

Sekitar tahun 1743, Jawa bagian Timur termasuk kerajaan Blambangan telah diserahkan oleh VOC kepada Raja Pakubuwono II. VOC yang merasa bahwa Blambangan adalah miliknya dan juga dianggap sebagai daerah yang dapat menguntungkan dan rencana akan dimanfaatkan jika itu diperlukan. Saat ketika Pangeran Danuningrat untuk meminta bantuan kepada VOC dalam memerangi Bali dimana saat itu VOC tidak tertarik dengan Blambangan yang pada saat itu disebut sebagai Tirtaganda, Tirtoarum dan Tuyoarum. Lalu VOC tiba-tiba ingin mencoba menguasai Banyuwangi dan seluruh kerajaan Blambangan karena saat Banyuwangi di Kuasai oleh Inggris, Banyuwangi sangat berkembang sehingga perang antara VOC dan Inggris tak terelakkan yang berlangsung selama 5 tahun.

Sebagai tempat kelahiran Pangeran Banyu Puputan, dan perang yang melibatkan Banyu Puputan dan oleh sebab itulah disebut sebagai Banyuwangi. Apabila Inggris pada saat itu tidak menguasai Banyuwangi, VOC juga tidak akan mengambil paksa Blambangan dan perang Pangeran Bayu Puputan juga tidak akan terjadi. Oleh karena itu, 18 Desember 1771 adalah hari kelahiran Banyuwangi.

Legenda Banyuwangi

Saat Blambangan yang dipimpin oleh Raden Banterang dan juga ingin menguasai negara tatangga termasuk kerajaan Klungkung Bali dengan tujuan untuk memperluas Wilayahnya. Saat perang Klungkung terjadi, Pemimpin Klungkung dan putrinya ikut dalam peperangan sehingga menewaskan Pemimpin Klungkung dan Putrinya berhasil melarikan diri menuju ke Hutan.

Semasa Raden Banterang masih hidup, Sang Raden memiliki Hobi berburu dan sering ia lakukan di sekitar kerajaannya. Pada suatu hari, Raden pergi berburu dihutan yang berada di sekitar Kerajaan. Di tengah Hutan, Sang Raden tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik bernama Ida Ayu Surati. Tertarik dengan kecantikannya, Sang Raden berniat untuk membawa wanita cantik tersebut ke Kerajaannya dengan tujuan ingin untuk mempersuntingnya. Setelah pernikahan mereka, Raden dan Istrinya hidup sangat bahagia di Istana.

Raden yang memiliki hobi berburunya sudah ada sejak lama, Pada saat sudah menikahpun sang Raden tetap melakukan kebiasaannya dengan berburu. Pada suatu hari, Raden yang yang sedang berburu tanpa ditemani dengan Istrinya dan dengan sangat terkejut Istri Raden yang tinggal di rumah kedatangan seorang pengemis yang tidak lain adalah kakak laki-laki dari Ida Ayu Surati yang bernama Agung Bagus Mantra. Mengetahui itu, Ida Ayu berlari dengan memeluk kaki kakaknya dan sebaliknya sang kakak marah dan memukul adiknya dan menyuruh adiknya itu untuk membunuh suami tercintanya. Dengan sangat terkejut mendengarnya, Ida Ayu tidak memenuhi permintaan kakaknya. Dengan berbagai cara sang kakak dari Ida Ayu membuat pernyataan palsu dengan menemui Suami Ida Ayu dan mengatakan kepadanya bahwa Ida Ayu telah menghianati sang Raden dengan berselingkuh pada pria lain.

Walaupun pada awalnya sang raden tidak percaya pada pernyataan tersebut mengenai Fitnah yang ditujukan pada Istrinya sehingga sang radenpun percaya. Dengan situasi yang sangat marah, Sang Raden menyeret Istrinya menuju kesebuah danau dan Istrinya berusaha untuk memberikan pernyataan kebenaran bahwa tuduhan tersebut sangat tidak benar adanya. Tidak percaya dengan pengakuan Istrinya, Sang raden menjadi bertambah marah kemudian istrinya menyuruh suaminya agar segera membunuhnya sebagai bentuk bukti Cintanya yang sangat tulus terhadap suaminya. Atas kerelaan Istrinya, Ia meminta permintan yang terakhir jika Mati dan mau membuang mayatnya ke sungai dan juga berkata kepada Suaminya Air sungai akan beraroma sangat bau jika sang Istri berbohong, tatapi sungai yang mengeluarkan Aroma harum itu bertanda bahwa sang Istri benar-benar tidak bersalah.

Tanpa berpikir panjang, Raden Banterang mengeluarkan Keris dan menusukkannya ke bagian dada Istrinya hingga tewas seketika dan segera dibuang oleh suaminya ke Sungai yang sangat bau dan kotor. Setelah mayat dibuang, Tidak lama kermudian air sungai yang kotor dan sangat bau tersebut berubah menjadi air sungai yang sangat jernih serta dengan aroma yang sangat wangi. Teringat dengan kata Istrinya, Sang radenpun sangat menyesali perbuatannya karena sudah tidak mempercayai dan membunuh Istrinya sehingga Raden berteriak dengan menyebutkan Banyuwangi.. Banyuwangi… Banyuwangi….