Kisah Masa Hidup Kartini

November 24, 2016 1936 Views

Maya raden kertini dikenal sebagai RA Kartini yang lahir pada 21 April 1879 di kota Jepara, Jawa tengah. RA Kartini adalah seorang anak dari keturunan bangsawan yang bekerja sebagai Bea Cukai. Setelah lulus dari sekolah dasar, RA Kartini tidak di ijinkan untuk melanjutkan pendidikannya lagi oleh orang tuanya dan diharuskan untuk menikah pada usia yang masih sangat muda.

Pada saat itu, Ia tidak berani menentang orang tuanya untuk menolak pernikahan yang sangat muda karena ia tidak mau dianggap sebagai anak yang pembangkang walupun ia sangat sedih. Untuk meringankan kesedihannya, RA Kartini mengumpulkan banyak buku-buku pengetahuan untuk di bawanya ke taman yang berada di depan rumahnya untuk dibaca yang di dampingi oleh seorang asisten rumah tangga. Dari sejak itu, RA Kartini memiliki minat membaca setiap harinya.

Selain suka membaca buku, Ia juga suka membaca koran. Dari surat kabar dan buku-buku yang ia baca, Ia sering mengalami kesulitan membaca dan menanyakan kepada ayahnya. Melalui buku yang dibaca, Ia tertarik dengan surat kabar yang berisi tentang Belanda menjajah Indonesia. Pada saat itu, Ia mempunyai keinginan untuk menjadi seorang perempuan yang kerjanya tidak hanya di dapur, yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan. Ia memiliki keinginan untuk mengajarkan ilmu menulis dan lainnya kepada anak-anak.

Di tengah-tengah kesibukannya, Ia tidak pernah berhenti membaca dan menulis surat untuk teamnnya yang ada di Belanda. Tidak lama kemudian, Ia menulis surat untuk Mr.JH Abendanon agar mendapatkan beasiswa untuk belajar di Belanda. Setelah ia menikah, Ia tidak menggunakan beasiswanya lagi dan suaminya mendukungnya untuk mendirikan sebuah sekolah

Berkat semangatnya yang begitu luar biasa, Ia berhasil mendirikan sebuah sekolah di beberapa negara seperti Surabaya, Yokyakarta, Malang, dan Cirebon yang ia namai Sekolah Kartini. Atas keberhasilannya itu, Ia tidak lupa daratan dan tetap menjadi seorang wanita yang selalu sopan terhadap orang lain dan ia tidak membedakan antara miskin dan kaya. Sekitar 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun setelah ia melahirkan seorang anak pertamanya.

Pada akhir abad 19 dan awal abad ke 20, banyak wanita-wanita yang tidak memiliki kebebasan dan tidak diperbolehkan memiliki pendidikan tinggi yang tidak seperti Pria yang lebih memilih untuk dinikahkan seperti Kartini pada masanya.

Dan sebagai waktu kelahiran Kartini, Penentuan tanggal lahir Kartini yang di jadikan sebagai hari besar yang berujung perdebatan yang memberikan masing-masing pendapat.