Sakitnya Ditinggal Nikah Oleh Kekasih

November 22, 2016 2874 Views

Pada tahun 2004, Saya yang bertepatan telah lulus dari bangkui SMA di Medan, Pada saat itu sekolah mengadakan acara perpisahan di salah satu gedung serba guna di Jalan Kapten Muslim Kota Medan. Dan pada saat itu, Saya dan seorang teman saya pergi ke salah satu Mall yang bertepatan dekat dengan gedung serbaguna tersebut, tidak lama kami berada dalam Swalayan yang ada di dalam Mol, saya melihat seoarng wanita yang sedang sendirian berbelanja di Swalayan itu, dengan rasa penuh percaya diri, sayapun berkenalan dengan wanita tersebut. Wanita Ini bernama Darlis yang tinggal di kota Medan dan juga sebagai salah satu Karyawan Mall yang kami kunjungi. Selain berkenalan, Saya Dan Darlis juga saling menukar nomor telepon.

Dengan adanya nomor telepon, saya sering menelepon Darlis dan berbincang-bincang panjang lebar. Seseringnya saya menelepon Darlis dan sudah lama kenal, Saya sering menjemput Darlis dari tempat kerjanya untuk mengantarnya pulang. Sebelum saya mengantarnya pulang, kami makan terlebih dahulu di salah satu kedai yang tepat di depan Mol dimana Darlis bekerja. Hampir setiap harinya kami melakukan itu.

Setelah beberapa tahun berteman, suatu malam disaat saya menjemputnya dari tempat kerjanya, kami tidak langsung pulang, melainkan singgah disalah satu kedai untuk makan dan minum. Dan pada malam itu juga saya mengungkapkan perasaan saya kepadanya dan dengan perasaan yang sangat senang, Saya di terima menjadi pasangannya. Setelah 1 tahun berpacaran, kami akhirnya merencanakan sesuatu yang selalu dinantikan oleh setiap pasangan yaitu perencanaan untuk Menikah. Tidak lama dengan perencanaan itu, Saya yang bekerja sebagai Security di salah satu Mall yang ada di kota Medan, Perusahaan mengirim saya ke salah satu kota yang jauh dari Medan Yaitu kota Jambi, dan Darlis pun tidak merasa keberatan mengenai hal itu. Saya yang menjadi seorang perantau yang jauh dari keluarga dan juga pacar, Saya hanya bisa menghubunginya dengan telepon dan menanyakan kabarnya. Setelah 6 bulan saya merantau, Saya pun pulang ke kampung halaman dengan tujuan ingin melihat orang tua dan juga pacar.

Selain orang tua, Darlis juga saya kabari bahwa saya akan pulang ke Medan. Sesampainya saya di Medan, keesokan harinya yang bertepatan sang pacar sedang libur, Saya mengajak sang pacar untuk menonton bioskop di salah satu Mall yang ada di kota Medan. Setelah beberapa hari saya di Medan, Saya memutuskan untuk kembali lagi pada kota perantauan saya. Setelah genap 1 tahun saya di perantauan, Saya pun kembali di kirim oleh Bos saya untuk pergi ke Kota Sibolga Sumatera Utara yang sekitar 10 jam perjalanan dengan mengendarai Mobil untuk melakukan tugas sebagaimana umumnya Security dan Darlis pun tidak merasa keberatan.

Setiap 3 bulan sekali, Saya di ijinkan pulang ke kampung halaman untuk melihat keadaan orang tua juga melihat keadaan sang pacar. Dan kami pun menghabiskan waktu berdua selagi saya di Medan, setelah beberapa hari di Medan, Saya di telepon oleh Bos saya untuk kembali ke Sibolga karena ada pekerjaan penting yang sudah menunggu dan sayapun kembali.

Selama kami pacaran dan semenjak saya merantau, telepon Darlis tidak henti-hentinya berdering karena saya yang selalu menghubunginya tapi setelah Darlis pulang Kerja. Hampir 8 tahun lamanya saya merantau di kota Sibolga dan hanya sesaat saja pertemuan kami di Medan, mungkin Darlis merasa tidak yakin dan ragu kepada saya sehingga ia berani memutuskan hubungan yang sudah lama kami jalani.

Pada suatu hari, Darlis menelepon saya dan mengatakan minta maaf kepada saya karena ia sudah dilamar oleh lelaki lain dan mengundang saya. Pada saat itu juga saya yang merasa sangat kacau, sedih, dan bingung mendengar hal ini. Sejak itu kehidupan saya mulai tidak teratur seperti makan dan tidur yang sangat kurang dan di campur dengan bergadang. Selang beberapa hari, Darlis kembali menelepon saya dan berkata ” Maaf ya bang, Aku enggak bisa menjalani hubungan jarak jauh seperti ini, makanya aku mutusin untuk menikah dengan lelaki lain. Sekali lagi maaf yang bang.” Saya berkata ” Semoga kamu bahagia dengan lelaki pilihanmu itu dan maaf, mungkin saya tidak bisa datang karena sangat banyak pekerjaan “.

Pada saat itu saya merasa sangat terpukul dengan rasa sakit hati yang begitu tidak karuan. Tetapi, sebagai lelaki yang berjiwa besar, saya berusaha untuk tetap tegar walaupun rasa sakit yang dirasakan tidak mudah hilang secepat itu. Saya tidak dendam, melainkan saya juga mengirimkan kado pernikahannya dan juga mendoakannya agar langgeng dengan suaminya.

Dalam prinsip saya yang sudah lama tertanam, Mengatakan untuk semua lelaki, Janganlah menyakiti perasaan seorang wanita, Jadilah lelaki yang selalu menghargai perasaan seorang wanita. Itu baru yang namanya lelaki sejati.

Lelaki sejati itu, menyayagi kekasihnya bukan menyakiti kekasihnya. By: Anil Jaya Silin