Reuben Paul, Cyber Ninja Berusia 11 Tahun

May 23, 2017 1370 Views

Pada minggu lalu, dunia maya dihebohkan dengan sebuah virus jahat yang sebarkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Hal ini dikenal dengan WannaCry yang menyerang hampir 150 negaradi dunia. Para peretas memanfaatkan program tersebut untuk meminta tebusan uang pada lembaga atau institusi yang diretas. Kejadian ini bahkan diperkirakan merugikan perekonomian hingga ratusan juta dolar. Denyut bisnis tergoncang, tapi sempat membuat saham perusahaan keamanan siber menguat. Dalam dekade terakhir perkembangan teknologi yang melaju pesat memang berbanding lurus dengan semakin lebarnya tindak kejahatan siber mulai dari yang terang-terangan merampok seperti malware WannaCry, hingga ancaman semakin sempitnya ruang privasi seseorang.

Peretasan Melalui Sebuah Boneka

Seorang “ninja cyber” berusia 11 tahun mengejutkan para ahli keamanan pada hari Selasa dengan cara membobol perangkat bluetooth mereka untuk memanipulasi beruang teddy dan menunjukkan bagaimana mainan cerdas yang saling terkait dapat dijadikan senjata. Orang Amerika wunderkind Reuben Paul mungkin masih duduk dibangku kelas enam di sekolahnya di Austin, Texas, tapi dia dan boneka beruangnya Bob memukau ratusan orang pada konferensi keamanan cyber yang tepat waktu di Belanda. Sambil mondar-mandir di panggung besar Forum Dunia di Den Haag, dia mengatakan bahwa dari pesawat terbang ke mobil, dari ponsel pintar hingga rumah pintar, mainan apapun atau apapun bisa menjadi bagian dari Internet of Things (IOT).

Dari terminator sampai boneka beruang, apapun atau mainan apa pun bisa dibuat senjata. Untuk mendemonstrasikan, dia mengerahkan beruangnya yang suka diemong terhubung ke icloud via wifi dan teknologi smart bluetooth untuk menerima dan mengirimkan pesan. Untuk membuktikan perkataannya, Reuben mendemonstrasikan bagaimana boneka Teddy Bear-nya yang bernama Bob berubah jadi senjata mata-mata.

Bob adalah jenis boneka yang terkoneksi internet. Lewat WiFi di ruang konferensi itu dan Bluetooth yang terpasang pada Bob, Rueben memindai seantero aula agar bisa terkoneksi dengan semua perangkat ber-Bluetooth di sana. Sekonyong-konyong, komputer Reuben mengunduh lusinan nomor-nomor, termasuk sejumlah nomor rahasia. Proses peretasan itu dibantu dengan perangkat milik Reuben yang dinamainya “Raspberry Pi”. Kemudian menggunakan program bahasa komputer, yang disebut Python, dia menyusup ke beruangnya melalui salah satu nomor untuk menyalakan salah satu lampu dan merekam pesan dari penonton.

Alat Rumah Tangga Bisa untuk Memata-Matai

Dia mengatakan kepada AFB bahwa sebagian besar hal yang berhubungan dengan internet memiliki fungsi bluetooth, pada dasarnya dia menunjukkan bagaimana dia bisa terhubung dengannya dan mengirim perintah ke sana, dengan merekam audio dan memainkannya. Dia juga mengatakan bahwa peranti rumah IOT, barang yang bisa digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari, mobil kita, lampu kulkas, segala sesuatu seperti ini yang terhubung bisa digunakan dan diperjuangkan untuk memata-matai atau merugikan kita. Ini dapat digunakan untuk mencuri informasi pribadi seperti kata sandi, sebagai pengawasan jarak jauh untuk memata-matai anak-anak atau menggunakan GPS untuk mencari tahu di mana seseorang berada. Lebih mengerikan lagi, mainan bisa mengatakan “temui aku di lokasi ini dan aku akan menjemputmu,” kata Ruben.

Sejak kecil Reuben memang punya ketertarikan mempelajari keamanan informasi. Ia telah mempelajari teknologi informatika dan ilmu komputer sejak umur 5 tahun dan menjadi ahli di bidang keamanan siber di usia delapan tahun. Selain punya perusahaan keamanan siber-nya sendiri, Reuben juga sering dipanggil menjadi pembicara dalam konferensi teknologi internasional.

Dalam wawancaranya dengan David Bisson dari Trip Wire, Reuben yang waktu itu berumur 8 tahun bahkan punya ide untuk memasukkan keamanan informasi dalam kurikulum sekolah dasar. “Menurutku, sekolah harusnya membicarakan keamanan siber beriringan dengan cyberbullying,” kata Reuben, sebab, “Makin banyak anak-anak hari ini yang menggunakan teknologi untuk menjahili sesamanya, yang bisa memicu trauma emosional dan pikiran bunuh diri.”

Mano Paul, ayah Reuben yang juga seorang peretas dan akhli teknologi informatika, mengaku terkejut dengan kemaampuan anaknya yang berhasil membongkar kerentanan peretasan pada mainan. Namun ada yang dikhawatirkan Mano Paul dari kesuksesan Reuben tersebut, seperti dilansir dari The Guardian.

Artinya anak saya sedang bermain dengan bom waktu, bisa saja nanti suatu waktu seseorang bisa memanfaatkannya, kata Mano. Namun, di luar apa yang jadi kekhawatiran sang ayah, Reuben telah membuka mata kita bahwa serangan siber begitu dekatnya, ia bisa datang kapan pun, dimana pun dan dengan peranti apa saja di sekeliling kita yang terkoneksi dengan internet.

Hebat ya guys, masih kecil udah menjadi seorang peretas. Hal ini membuktikan bahwa pengetahuan tidak mengenal batas usia.